Paman jauhku dari Madiun baru saja menghubungi suamiku Mas
Adit, untuk meminta tolong menitipkan putrinya yang bernama Anneke.
Menurutnya Anneke baru dapat panggilan dari perusahaan asing tempat
Anneke melamar kerja, dan Anneke memerlukan waktu paling lama seminggu
untuk keperluan wawancara dan mengurus berbagai prosedur administrasi
guna melengkapi curriculum vitae yang telah lebih dulu dikirimkannya.
Mas Adit memberitahuku dan sekalian meminta pendapatku. Untuk hal-hal
seperti ini, kami memang selalu merundingkannya bersama sebelum
mengambil keputusan. Dan tentu saja aku sama sekali tidak berkeberatan
karena memang sudah menjadi kewajiban kami untuk saling menolong antara
sesama sanak keluarga. Kisahku yang berikut menceritakan pengalamanku
bersama Anneke dalam waktu seminggu tersebut.
Hari Pertama
-----0-----
Pada suatu pagi, sekitar pukul 5.30, terdengar ketokan di pintu. Seorang
gadis berpenampilan sederhana datang dari Madiun, Anneke yang berpostur
langsing, bercelana jeans dengan blus kembang-kembang, sedang berdiri
cantik di depan pintu sambil menebar senyum manisnya. Dia datang dengan
taksi dari stasiun Gambir. Kereta malamnya masuk Jakarta sekitar pukul
4.30 pagi ini. Kuperkirakan perjalanannya cukup melelahkan. Setelah
minum teh panas dan sarapan, dia saya sarankan agar beristirahat dulu.
Kami sudah menyediakan kamar tamu kami sebagai kamar Anneke selama dia
di Jakarta.
-----0-----
Hari pertama sejak kedatangannya, Anneke belum pergi ke-mana-mana. Dia
hanya menelepon kesana kemari berkaitan dengan urusan yang akan
dihadapinya selama di Jakarta. Anneke yang berpenampilan sebagai gadis
cerdas dan lincah ini adalah lulusan Fakultas Ekonomi UNBRA Malang.
Umurnya baru 23 tahun. Sosoknya atletis, tingginya 178 cm dan bobotnya
56 kg. Di kotanya, Anneke dikenal sebagai mayoret marching band yang
sering mewakili kotanya melakukan kompetisi antar propinsi. Dia juga
terpilih sebagai anggota PASKIBRAKA (pasukan pengibar bendera pusaka)
Jawa Tengah saat masih SMA karena kecerdasannya disamping juga didukung
posturnya yang atletis itu. Wajah dan kulitnya yang hitam manis
mengingatkanku pada model-model hispanic, campuran bule dan lokal
Amerika Selatan. Aku sendiri tidak tahu, wajah itu sebenarnya lebih
mirip bapak atau ibunya yang sama-sama asli Jawa itu. Mungkin karakter
seperti itu berasal dari pola makan anak-anak jaman sekarang yang suka
dengan "junk food' dari Barat. Rambutnya panjang dan masih suka
dikepang. Kesana-kemari dia lebih banyak memakai celana jeans karena
menurutnya lebih praktis. Dan dia memang sangat sesuai jika memakai
jeans. Pantatnya yang seksi dengan pahanya yang besar dan kuat membuat
Anneke tampak sangat sensual hingga siapapun yang memandangnya pasti
akan mengagumi sosok penampilannya. Atletis dan kecerdasannya merupakan
kesan awal bagi siapapun yang menjumpainya. Dengan dadanya yang bidang
dan tegap, dia memang pantas untuk menjadi seorang mayoret dan anggota
PASKIBRAKA hingga tak berlebihan kiranya jika kukatakan bahwa Anneke ini
adalah anak gadis yang baru datang dari daerah tetapi memiliki gaya dan
kepribadian trendy yang mempesona. Pembawaannya pun tidak canggung. Dia
selalu berusaha membantuku mengurus rumah, walaupun aku telah
melarangnya. Dia sangat pandai membawa diri hingga aku merasa senang dan
terbantu dengan kedatangannya.
-----0-----
Hari ke-2
-----0-----
Anneke telah bangun pada dini hari dan menyempatkan diri untuk lari pagi
mengelilingi kompleks rumahku yang cukup luas. Kemudian dia menyiapkan
sarapan untuk kami semua. Aku dan Mas Adit sangat senang dan menghargai
usahanya itu. Kurasa dia dapat menjadi teman yang sangat menyenangkan di
rumah.
-----0-----
Hari ini dia akan pergi ke perusahaan dimana ia melamar kerja. Walaupun
sebelumnya dia sudah mempersiapkan diri untuk dapat mengenali
route-route kendaraan umum yang akan dilaluinya, tetapi pada hari
pertamanya, Mas Adit akan mengantarkannya hingga ke alamat yang dituju.
-----0-----
Pada sore harinya dia pulang sendiri kira-kira pada pukul 3 hingga masih
belum terperangkap dalam kemacetan lalu lintas di Jakarta. Kusambut dia
dengan mengatakan bahwa walaupun baru sehari dia tinggal bersama
keluarga kami, tetapi saat dia ke pergi tadi terasa rumah menjadi sepi.
Anneke tersenyum dan berterima kasih karena keluarga kami bersedia
menerimanya dengan tangan terbuka. Dia menceritakan pengalaman barunya
tadi siang di kantornya.
-----0-----
Kemudian sekitar pukul 4 sore, sesuai dengan kebiasaanku, setelah aku
membereskan seluruh pekerjaan rumah tangga aku mandi. Tiba-tiba selintas
aku melihat kelebat bayangan di celah pintu kamar mandi yang retak
kecil sepanjang sambungan papannya. Rasanya ada yang mengintipku. Tapi
siapa? Bukankah di rumah hanya ada Anneke. Diakah? Ah, mungkin hanya
kebetulan. Aku kembali meneruskan kegiatan mandiku. Kubersihkan seluruh
tubuhku. Kugosok bagian-bagian tubuhku. Aku gosok dan remas buah dadaku
untuk menghilangkan kotoran dan keringatku. Aku juga membersihkan
ketiakku. Tiba-tiba aku melihat bayangan yang berkelebat kembali.
Kupikir, ini pasti Anneke. Tetapi hendak apa dia? Apakah dia sedemikian
ngebetnya ingin buang air hingga menantiku dengan tidak sabarnya? Aku
segera menyelesaikan mandiku, agar Anneke dapat segera menggunakan kamar
mandi yang sedang kugunakan. Kemudian aku bergegas keluar ke kamarku
untuk ganti baju. Kulihat Anneke sedang duduk membaca dokumen-dokumen
untuk keperluan wawancara besok pagi. Aku tidak lama berganti baju. Saat
aku keluar, ternyata Anneke masih sibuk dengan dokumen-dokumennya. Jadi
sebenarnya dia tidak ingin ke kamar mandi. Kupikir, mungkin aku salah
sangka mmengenai kejadian tadi hingga akhirnya kulupakan saja.
-----0-----
Hari ke-3
-----0-----
Seperti halnya kemarin, pada pukul 3 sore Anneke sudah kembali ke rumah.
Dia membawa oleh-oleh buah-buahan kesukaanku. Kukatakan padanya agar
tidak perlu merepotkan diri dan dia harus menghemat uangnya karena di
Jakarta segalanya mahal. Dia hanya tersenyum. Kemudian dia membantuku
membersihkan dapur, yang walaupun sudah sering dengan basa-basi
kularang, tetapi tetap dikerjakannya terus. Kemudian dia kembali
menghadapi dokumen-dokumen kantornya.
-----0-----
Pada pukul 4 sore aku kembali mandi sesuai dengan rutinitasku.
Sebenarnya aku sudah melupakan peristiwa kemarin hingga kelebatan sosok
orang yang mengintip di pintu itu kembali kulihat. Aku jadi berpikiran
erotis. Apakah Anneke senang melihatku mandi? Aku lantas membayangkan
seseorang yang senang mengintip orang lain mandi. Orang-orang seperti
itu akan terangsang birahinya saat mengintip orang mandi. Bahkan tidak
jarang yang sambil melakukan masturbasi sambil melakukan kegiatan
mengintipnya.
-----0-----
Aku mengelus kudukku. Ada semacam perasaan birahi yang menyelinap. Aku
menjadi terangsang. Aku ingin menggoda Anneke. Aku akan memamerkan
lekuk-lekuk tubuh indahku kepadanya. Aku akan sengaja berlama-lama
mandi. Aku merasakan semacam nikmat birahi saat orang lain menonton
tubuh telanjangku. Apakah ini yang sering disebut sebagai
'exhibitionist'?
-----0-----
Kini yang kuperhatikan adalah celah pintu kamar mandi di bagian bawah.
Dari situ akan nampak bayangan yang lebih jelas seandainya ada orang
berdiri di depan pintu. Dan jika belum berpengalaman, maka orang
tersebut tidak akan merasa bahwa kehadirannya di pintu itu akan
diketahui oleh orang yang berada di dalam kamar mandi. Aku menyibukkan
diri dengan menggosok badan dari kotoran sehari-hari yang melekat di
seluruh bagian tubuhku. Sesekali aku melirik ke pintu bagian bawah.
-----0-----
Pelan-pelan, dengan penuh perasaan aku membersihkan leherku dengan
tangan. Kubersihkan kudukku dengan menyabuninya. Kubayangkan betapa
ketiakku begitu terpampang lebar untuk dinikmati oleh mata Anneke.
Kemudian dengan perlahan, kucuci kedua ketiakku itu, menyabuni dan
menggosoknya. Aku bergaya seakan hidungku berusaha mengendusnya untuk
mencek bahwa ketiakku sudah wangi. Dan akhirnya benar. Kulihat kini
bayangan kaki itu kembali. Aku tahu persis, itu memang kaki Anneke.
Dengan tanpa sengaja, berarti aku sudah mengamati kedua kakinya yang
lincah itu selama 2 hari di rumahku. Kaki itu diam saja dan tenang.
Pikirku, saat ini pasti mata Anneke sedang terpaku menatap ketiakku.
Diam-diam perasaanku mulai merinding karena birahiku yang telah lebih
menyeruak ke dalam perasaanku.
-----0-----
Tanganku beralih ke buah dadaku. Kuambil sabun dan kugosokkan ke buah
dadaku, yang tentunya akan sangat menarik pandangan Anneke. Busa sabun
tersebut menutup sebagian buah dadaku. Biasanya hal ini akan membuat
penasaran bagi siapapun. Sengaja kubiarkan kubiarkan hal ini, kemudian
jari-jariku mulai mempermainkan puting susuku. Aku pilin-pilin hingga
wajahku sedikit menyeringai. Berikutnya, kugosokkan sabun ke perut,
kemudian juga ke pinggang dan pinggul. Aku berputar ke kanan dan ke kiri
agar Anneke bisa menikmati keseluruhan tubuhku. Mataku kembali melirik
pintu bawah kamar mandi dimana kaki Anneke masih nampak tidak bergeser
dari tempatnya semula.
-----0-----
Seusai menyabuni buah dada, perut dan pinggang serta pinggulku, aku
menyendok air untuk kusiramkan ke tubuhku. Sekali lagi kuputar tubuhku.
Aku tahu, air yang menyiram dan mengaliri tubuhku akan membuatnya nampak
bening dan mulus karena pantulan cahaya yang menerpa lekuk-likunya. Aku
kembali berputar sambil sesekali membuat gerakan membungkuk. Dengan
cara itu, Anneke akan dapat melihat betapa buah dadaku yang ranum ini
menggembung dari dadaku. Dan dari sudut yang lain dia juga akan dapat
menikmati pantatku yang menonjol ke belakang.
-----0-----
Kembali kuintip kaki di balik pintu itu. Kubayangkan betapa "panas
dingin" perasaan dan "dag dig dug" jantung Anneke. Kemudian kaki kiriku
kuangkat agar bertumpu pada bibir bak mandi. Posisi ini membuatku
membelakangi pintu. Kubayangkan betapa Anneke akan dapat menikmati mulus
dan indahnya bokongku. Bahkan saat kusengaja untuk sedikit lebih
menungging lagi, analku yang bersih kemerahan itu akan langsung
terpampang dengan leluasa ke arah pintu. Selintas aku merasa kasihan
pada Anneke, karena membayangkan betapa birahinya akan sedemikian
tersiksa melihat bokong dan analku di depan hidungnya. Tentu saja, tidak
lupa aku juga mencuci bokong dan analku. Pertama, kugosok semua bagian
dengan sabun hingga berbusa. Kemudian tangan atau jariku mengosok-gosok
atau mengelus setiap bagian itu agar benar-benar bersih. Bahkan saat
jari tanganku sampai ke anal, dengan lembut aku juga
menusuk-nusukkannya. Kemudian kembali aku mengguyurnya dengan gayung air
bak mandi hingga kembali pantulan cahaya erotis menerpa lekuk-liku
paha, betis dan jari-jari kakiku.
-----0-----
Lama kelamaan aku terbawa oleh imajinasiku sendiri yang semakin
mendorong gejolak erotis dengan sepenuh nafsuku. Saat aku melakukan ini
semua, secara perlahan aku mendesah dalam bayangan kenikmatan birahiku.
Saat kuangkat kaki kananku agar bertumpu pada bibir bak mandi,
selangkanganku akan nampak terbuka. Di dekat tepi celana dalamku, ada
'tahi lalat'-ku yang cukup besar. Mulanya, kuanggap 'tahi lalat' ini
mengganggu kecantikanku, tapi apa boleh buat. Tontonan selangkanganku
yang terbuka ini pasti merupakan kesempatan yang telah ditunggu-tunggu
oleh Anneke. Dia akan melihat selangkanganku lebih jelas dengan seluruh
detailnya, termasuk kemaluanku yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Kusabuni
paha dan betisku, kugosok dengan penuh perasaan. Kubayangkan, seakan aku
mencuci porselain yang sangat mahal dari Mesir. Kumasukkan sabun ke
jari-jari kakiku satu persatu dan kubersihkan dengan teliti. Aku ingin
berlama-lama memberikan kesempatan kepada Anneke untuk menikmati
pemandangan ini.
-----0-----
Kembali kuguyurkan air ke kaki kananku. Dan kini saatnya untuk mencuci
kemaluanku. Aku merasa perlu sedikit mendramatisir penampilan. Kuelus
seluruh permukaan kemaluanku. Tanganku membelah bibirnya dan jari-jariku
menggosok celah-celahnya. Dua jari kubenamkan-benamkan ke liang
vaginaku untuk mengorek dinding-dindingnya hingga wajahku sedikit
menyeringai. Kuambil sabun dan kugosok agar mengeluarkan busa. Kemudian
kuletakkan kembali sabun tersebut dan tanganku turun menyabuni vaginaku.
Kusabuni keseluruhan permukaannya termasuk bulu-bulu halus di
seputarnya. Kemudian tanganku mulai menyabuni bibir kemaluan dan
kelentit. Kugosokkan sabun hingga busanya bertumpuk menutup vaginaku.
Lalu dengan cepat kusiram hingga kembali dengan jelas tampak kemaluanku.
Selanjutnya kini kembali jari-jariku kumasukkan ke liang vaginaku.
Kukorek-korek hingga busa sabunnya menumpuk dan kembali menutup lubang
vaginaku. Semua hal tersebut kulakukan sambil wajahku menampakkan
ekspresi sensual yang kumiliki. Aku semakin tidak dapat membayangkan,
bagaimana blingsatannya Anneke karena menyaksikan ulahku ini. Dan pada
kuguyur seluruh tubuhku. untuk membilas ketiak, buah dada, puting,
perut, bokongku, anus maupun vaginaku hingga aku yakin bahwa semuanya
telah menjadi bersih. Kuambil handuk dari gantungan untuk mengeringkan
tubuh. Kemudian aku bergegas keluar kamar mandi. Kaki di depan pintu itu
dengan secepat kilat menghilang.
-----0-----
Aku berlagak seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Kulihat Anneke sudah
kembali duduk di ruang keluarga dengan koran hari ini di tangannya.
Untuk menunjukkan atensiku dan sekaligus menghilangkan segala
kemungkinan kecurigaanku padanya, kutanyakan apakah dia sudah membuat
teh untuk dirinya sendiri sejak pulang dari kantor tadi.
"Sudah, Mbak", jawabnya sambil terus membaca koran.
Saat aku berpakaian, kudengar Anneke ganti bersiap-siap untuk mandi.
"Kalau mau mandi, ambil saja sabun yang baru di laci persediaan dekat TV. Sabun di kamar mandi sudah mau habis. Nanti Mas Adit juga memerlukannya".
"Ya, Mbak", jawabnya.
Saat aku sedang berdandan, tiba-tiba terlintas suatu pemikiran di kepalaku yang seketika berubah menjadi tuntutan erotisku. Aku juga ingin mengintip Anneke saat mandi, sekarang juga.
"Sudah, Mbak", jawabnya sambil terus membaca koran.
Saat aku berpakaian, kudengar Anneke ganti bersiap-siap untuk mandi.
"Kalau mau mandi, ambil saja sabun yang baru di laci persediaan dekat TV. Sabun di kamar mandi sudah mau habis. Nanti Mas Adit juga memerlukannya".
"Ya, Mbak", jawabnya.
Saat aku sedang berdandan, tiba-tiba terlintas suatu pemikiran di kepalaku yang seketika berubah menjadi tuntutan erotisku. Aku juga ingin mengintip Anneke saat mandi, sekarang juga.
-----0-----
Pintu kamar mandi telah tertutup. Kudengar Anneke bernyanyi-nyanyi
kecil. Aku berjingkat mendekat ke depan pintunya. Aku mengintip dari
celah yang sama dengan celah pengintipan Anneke saat aku mandi tadi.
Kudekatkan mataku ke celah itu. Kulihat Anneke sedang membuka bajunya.
Tangannya ke atas menarik kaosnya. Kulihat ketiaknya yang terbuka. Wow,
ketiak perawan yang membuat darahku langsung naik. Dia tidak memakai BH.
Mungkin sudah dilepas di kamarnya tadi. Saat menggantungkan kausnya ke
dekat pintu, serasa buah dadanya mendekat ke wajahku. Kemudian tetap
dengan nyanyi kecilnya, ia melucuti rok bawah. Nampak bokongnya yang
besar masih terbungkus celana dalam putihnya. Sekilas ia mengelus
sesuatu yang tembem di depan celananya. Sekali lagi, ketiak dan buah
dadanya mendekat ke pintu. Tangannya menggantung rok bawahnya. Dan kini
ia membuka celana dalam putihnya. Aku serasa dipamerkan sebuah pesona.
Vagina Anneke yang menggembung. Rambut-rambut tipisnya membuat vagina
tersebut serasa memanggil lidahku yang kelak, siapa tahu, akan
berkesempatan menjilatinya untuk memberikan kenikmatan pada Anneke.
-----0-----
Aku menatapnya dengan lebih terbeliak. Pada gundukan nikmat itu, bagian
tengah atasnya mulai terbelah lembut. Semakin ke bawah, belahan itu
semakin melebar karena desakan kelentitnyayang menggembung mengisi penuh
belahan itu. Ingat hamburger yang berisi daging asap? Seperti itulah
kira-kira penggambarannya. Kurasakan vaginaku yang mulai membasah.
Kelentitnya adalah benar-benar kelentit perawan. Belum nampak
lipatan-lipatan yang disebabkan oleh benda tumpul yang sering
mendesaknya. Sedikit mendekati ujungnya, kelentit itu mencuat keluar.
Itu mengindikasikan bahwa kelentit Anneke berukuran sangat besar.
Kelentit seperti itu pasti akan sangat nikmat jika dilumat. Kemudian
karena Anneke membelakangi pintu karena sedang menggosok giginya untuk
beberapa saat, vaginanya tidak tampak. Tetapi kini aku dapat menyaksikan
pesona yang lain, yaitu pantatnya.
-----0-----
Ternyata anak muda sekarang ini tak pernah melewatkan mode dan trend.
Anneke memasang tatoo bergambar sebuah pesawat ulang-alik di ujung
bokongnya. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas tampak manis sekali.
Saat tubuhnya sedikit membungkuk untuk bersikat gigi, belahan pantat
Anneke tampak merekah. Anusnya yang hitam manis itu sangat mulus. Sebuah
paduan yang penuh harmoni. Pantat anak perawan yang begitu sensual
dengan alur-alur halus menuju titik klimaksnya, bibir anus yang mulus
kemerahan. Aku menahan air liurku. Selesai menyikat gigi, Anneke
mengambil gayung untuk mulai menyirami tubuhnya. Mula-mula tangan dan
kemudian kakinya. Dia menghindari air yang dingin langsung menyiram
seluruh tubuhnya.
-----0-----
Kini tubuhnya yang basah memperlihatkan kontras lekuk liku bukit dan
lembah di tubuh Anneke. Dia menyiram tubuhnya dari atas kepala.
Rambutnya yang basah berserak melekat menutupi sebagian tubuhnya. Aku
jadi teringat seorang sutradara Hollywood yang berkata tentang indahnya
wanita. Dia mengatakan bahwa saat mandi, seluruh bentuk alami seorang
wanita akan menunjukkan kapasitas keindahannya yang maksimal. Dan itulah
sekarang yang sedang kunikmati. Anneke menunjukkan keindahannya dalam
basah tubuhnya. Kini dia mengambil sabun mandi. Dia usapkan ke bahunya
yang bidang, lalu turun ke dadanya. Busa sabun yang berserak di tubuhnya
nampak di mataku seperti busana 'houture couture' dari kapas surga
buatan malaikat. Tubuh sintal dengan kulit hitam manis Anneke yang cukup
kontras dengan 'busana' malaikatnya itu sepintas mengingatkanku pada
tubuh Naomi Campbell, model hitam dari Paris itu. Buah dadanya nampak
sedemikian padat dan ranum saat tangannya yang halus meremas dan
menggosoknya. Dia juga memilin-milin putingnya dengan sedikit mendesah.
-----0-----
Yang membuatku jadi setengah bertanya adalah, apakah peristiwa
sebelumnya saat dia mengintipku mandi tadi telah mempengaruhi
perasaannya, sehingga dia mendesah seperti itu? Perasaan erotisku
menjalar ke ubun-ubun. Tanganku mengelus-elus rasa gatal dan panas di
kemaluanku. Cairan birahiku semakin terasa mendesak keluar. Anneke
mengambil gayung dan menyiram tubuhnya mulai dari kepala. Air yang
mengguyur dan mengalir di seluruh tubuh menghapus 'busana' surganya.
Anneke berubah menjadi porselain China yang hitam manis berkilatan.
Bibir Anneke kembali mendesah dengan mulutnya yang setengah terbuka
menghela nafas saat air dingin segar itu menyiram tubuhnya. Kemudian
tangannya beralih menggosok bagian tubuh yang lainnya.
-----0-----
Diangkat satu tangannya ke atas dan tangan yang lain menyabuni ketiaknya
yang terbuka, demikian bergantian. Lembah sensual di ketiak Anneke
sungguh sangat mempesona. Aku membayangkan aromanya saat basah oleh
keringatnya seusai baris berbaris saat melakukan tugasnya sebagai
mayoret. Kembali aku menelan air liurku. Dari ketiak, tangannya
menyabuni perut hingga ke selangkangannya. Di sini jantungku berdegup
dengan kencang. Perut perawan yang kencang dan langsing, dengan pusarnya
yang nampak masuk ke dalam itu tampak begitu serasinya. Warna kulit
hitam manisnya justru memancarkan keindahan perut Anneke ini.
-----0-----
Begitu banyak wanita, khususnya para perawan yang meng-'expose' perut
dan pusarnya. Sebagai seseorang yang cerdas, Anneke tampak kurang suka
memamerkan pesona tubuhnya, khususnya bagian perut dan pusarnya itu
kepada orang lain. Kecantikannya nyaris selalu terbungkus dalam selubung
'sutra' kecerdasannya itu. Kini tangannya mulai membelai kemaluannya
dengan lembut. Dimiringkan telapak tangannya saat menyelip dan membelah
bibir kemaluannya. Tangannya masuk setengah, kemudian ditariknya untuk
menggosok ke atas dan kemudian dengan cepat diturunkannya kembali, terus
berulang-ulang. Bibir kemaluannya yang nampak demikian subur dan montok
terdesak oleh jari-jarinya. Dengan wajahnya yang menatap langit-langit,
Anneke setengah menutup matanya. Dia seakan menarik nafas hendak
mengendus aroma sesuatu, mungkin aroma sabun yang harum itu. Gosokan
tangannya ke atas bawah itu kini juga telah lebih dalam memasuki celah
kemaluannya. Samar-samar kudengar Anneke mendesah. Tiba-tiba matanya
langsung mengarah celah dimana aku sedang mengintipnya. Aku terkejut,
apakah dia tahu bahwa aku mengintipnya? Ah biarlah, toh kalau sampai dia
tahu pun, aku masih bisa berkilah bahwa dia juga telah mengintipku saat
aku sedang mandi tadi. Tapi ternyata dia bukannya sedang menatapku.
-----0-----
Tangannya yang kini bergerak maju, mengambil sesuatu dari gantungan baju
yang memang letaknya menempel di pintu itu. Tetapi, Anneke meraih
celana dalamku yang karena lupa, masih tertinggal di kamar mandi. Celana
dalam itu sudah kotor dan aku telah berganti mengenakan celana dalam
lain yang masih bersih. Yang membuatku lebih terkejut lagi adalah,
dengan serta merta, celana dalamku yang bermotif bunga-bunga merah muda
itu diciuminya. Dia tangkupkan ke hidungnya dan dengan matanya yang
setengah tertutup, dia menghirupnya dalam-dalam selama bermenit-menit.
Dia bolak-balik serta di gosok-gosoknya celana dalam kotor itu ke hidung
dan wajahnya. Dia juga mengecap-ngecap dengan mulutnya hingga celana
dalam tersebut tampak basah kuyup oleh ludahnya, khususnya di bagian
menyempit yang pada saat dipakai akan menyelinap di celah pantatku. Wow,
edan juga birahi anak ini, birahi si anak perawan cantik yang terobsesi
dengan celana dalam kotorku hingga membuatku ikut blingsatan.
-----0-----
Selanjutnya, kulihat Anneke mengangkat kaki kanannya untuk diinjakkan ke
tepian bak mandi hingga nampak selangkangannya terbuka, kemudian satu
tangannya kembali turun dan membelah bibir kemaluannya yang kini merekah
di tengah selangkangannya yang terbuka. Dengan licin sabunnya yang
masih tertinggal, jari-jarinya menembus lubang vaginanya, kemudian
mengocok-ngocok keluar masuk dengan cepat. Desahannya kini juga disertai
dengan rintihan yang tertahan. Dia dalam keadaan sangat terhanyut.
Birahi telah melanda nafsunya. Pantatnya kemudian juga ikut bergoyang
maju mundur. Hal itu berlangsung cukup lama. Terkadang tangannya menusuk
lebih dalam ke vaginanya. Celana dalamku digigiti dan diisap-isapnya.
Saat ini Anneke sedang merasakan kenikmatan layaknya orang bersenggama.
Kulihat keringat mulai mengucur dari dahinya. Basah air di rambutnya
yang nampak awut-awutan, berubah menjadi basah keringat. Wajahnya terus
mendongak ke langit-langit. Matanya setengah tertutup dan mulutnya
setengah terbuka. Terdengar desahannya, hingga tak ayal lagi, kenikmatan
orgasme akan segera dialami oleh Anneke. Dan benar saja, tak lama
kemudian, akhirnya cairan birahinya muncrat. Anneke berhasil meraih
orgasme. Kuperhatikan dia saat menjelang orgasme, gerakan maju-mundur
pantatnya, keluar masuk tangannya, hidungnya yang dengan penuh kegilaan
menghirup aroma celana dalamku, semuanya berlangsung semakin cepat dan
penuh nafsu. Anneke kemudian rubuh ke lantai. Dia terduduk kelelahan.
-----0-----
Dan aku sendiri benar-benar telah terkena imbas badai birahinya. Aku
benar-benar sudah tak tahan lagi hingga dengan setengah berlari, aku
kembali ke kamar tidurku. Segera kukunci pintu untuk melucuti pakaianku.
Kuambil dildo pemberian tetanggaku Indri dari laci rahasiaku. Aku
merebahkan diri di ranjang. Kulipat pahaku hingga hampir menyentuh
tubuh. Pantatku menghadap lurus ke dinding dan kemaluanku terbuka.
Dengan cepat, kusentuhkan kepala dildo itu ke bibir vagina dan
kelentitku, lalu kudorong agar memasuki kemaluanku. Masih terasa agak
sulit dan 'seret', hingga terpaksa kutarik kembali dan kuludahi.
Kuludahi juga telapak tanganku untuk kemudian kuoleskan ke dalam
vaginaku. Kemudian kutusukkan kembali dildo itu ke dalam kemaluanku
hingga habis seluruh batangnya. Dan dengan cepat kukocokkan ke dalamnya
hingga dinding-dinding vaginaku dapar merasakan setiap detail batang
dildo itu. Nafsuku yang sudah sedemikan memuncak sejak mengintip
ekspresi Anneke pada saat dilanda orgasmenya tadi mempercepat datangnya
orgasmeku sendiri. Aku menjerit tertahan menerima kenikmatan tak
terhingga ini. Kupercepat kocokan dildoku hingga akhirnya segalanya
reda. Aku terkulai sambil mengatur nafasku satu-satu. Ohh.. Anneke,
kaulah penyebabnya.
-----0-----
Kudengar Anneke kembali menyiram tubuhnya. Tak lama kemudian, suara
pintu kamar mandi terdengar berderit. Anneke baru selesai mandi. Aku
mencoba membayangkan saat dia baru keluar dari kamar mandi dengan
menjinjitkan kakinya karena khawatir telapak kakinya akan membasahi
lantai keramikku. Kubayangkan rambutnya yang masih basah dengan handuk
yang melilit tubuh indahnya. Kubayangkan tetes-tetes air yang jatuh dari
tubuhnya ke lantai, tercecer dalam kristal-kristal yang bening. Kubawa
terlena semua bayang-bayangku hingga akhirnya aku tertidur.
-----0-----
Mas Adit pulang baru pada pukul 8 malam. Atas inisiatifnya sendiri yang
selalu tak pernah dapat kucegah, Anneke menyiapkan makan malam kami.
Dari persediaan bahan yang ada di lemari es, dia memasak masakan ala
serba Thai. Ada kangkung pedas, ada Tom Yang Goong dan menu utamanya
adalah Pla Jian, masakan dari ikan campur jahe. Ah, anak ini memang
benar-benar pintar membawa diri. Suamiku makan dengan lahapnya. Selama
makan, aku berlagak seakan tak ada hal aneh yang pernah terjadi. Seakan
aku tak tahu bahwa dia telah mengintipku mandi, dan sebaliknya aku juga
tidak ingin menimbulkan kecurigaannya bahwa aku juga telah mengintipnya
saat dia mandi. Besok Anneke akan menghadapi wawancara akhir yang akan
berlangsung di kantornya pada pukul 11 siang. Rencananya, dia akan
berangkat dari rumah besok pada pukul 10 pagi. Dia sudah memperhitungkan
bahwa paling lama dalam waktu 30 menit, dengan taksi dia akan dapat
mencapai kantornya.
-----0-----
Hari ke-4
-----0-----
Seperti biasanya, Mas Adit sudah berangkat ke kantor pada pukul 7.30
pagi. Setelah menyapu lantai, aku langsung mandi. Kali ini aku pergi
mandi dengan tersenyum geli. Aku akan mandi berdasarkan sebuah skenario
yang telah kupersiapkan masak-masak dalam benakku sejak malam menjelang
tidur. Sebelumnya, aku mondar-mandir di ruang keluarga dengan
bermantelkan handuk mandi yang membungkus tubuh, handuk yang baru kali
ini kupakai sejak Mas Adit membelikannya sepulang dari Hongkong bulan
lalu. Aku ingin memastikan bahwa Anneke mengetahui saat aku akan mandi.
Saat kututup pintu kamar mandi, sengaja kuperdengarkan dengan keras saat
slot kunci pintu kupasang. Kuperdengarkan juga suara-suara air yang
menyirami kakiku. Semua itu memang kumaksudkan agar Anneke mengetahui
bahwa aku sekarang sedang akan mandi. Dan sesuai dengan harapanku,
kulihat kembali kaki indah itu dari celah bawah pintu kamar mandi. Kaki
Anneke. Terselip rasa geli dalam hatiku. Aku seperti anak-anak yang
begitu senang mendapatkan mainannya. Dan kurasakan betapa main-main
seperti ini dapat menyenangkan hati pula. Aku tersenyum sendiri sambil
terbatuk-batuk.
-----0-----
Aku membayangkan diriku seolah penari striptease yang sedang berada di
atas panggung hiburan. Kulepas busanaku satu persatu dengan gaya erotis.
Pertama, kulepas ikat pinggang mantel handukku. Kemudian aku bergaya
seolah menggulung rambutku. Gaya seperti ini akan tampak menggairahkan
apabila terlihat dari arah samping. Oleh karenanya aku berdiri di dekat
bak mandi secara menyamping dari arah pintu. Kemudian kulepas mantelku
dan kugantung di gantungan baju di balik pintu. Aku yakin saat ini
jantung Anneke mulai berdegup kencang. Sebelum aku melepas BH-ku,
kumasukkan tangan untuk menggaruk-garuk buah dadaku seolah gatal sambil
sedikit mendesah. Aku juga menggosok leherku. Ini kulakukan untuk
menunjukkan pada Anneke betapa sensualnya leherku. Aku kemudian mengelus
dagu, rahang hingga belakang telingaku. Tempat-tempat itu biasanya
merupakan sasaran bibir dan lidah saat seseorang berkesempatan untuk
mencium dan menjilatinya.
-----0-----
Kugosok juga ketiakku. Kuangkat tinggi-tinggi tangan kiriku kemudian
kuelus dan kugaruk lembut lembah ketiakku. Teman dan tetanggaku Indri,
sangat keranjingan apabila menyaksikan ketiakku karena menurutnya
ketiakku indah dan harum seperti ketiak dewi dari surga. Maklum saja,
itu menurut orang yang sedang keranjingan. Kemudian kedua tanganku
meraih kancing BH di punggungku. Gaya membuka kancing BH ini adalah juga
sesuatu yang sangat disenangi oleh para wanita dan pria hidung belang,
karena saat membuka kancing BH, seorang wanita akan memperlihatkan
lengannya yang mulus, sedikit ketiaknya, juga dadanya yang tertarik ke
belakang hingga payudara akan tampak lebih kencang dan menggembung. BH
itu kembali kusangkutkan di gantungan baju. Aku teringat celana dalam
kotorku kemarin yang telah dilumat oleh bibir dan lidah Anneke. Sekarang
akan kutinggal BH-ku di gantungan ini. Aku ingin melihat ekspresi
Anneke saat menciumi BH-ku nanti. Kemudian kuamati perutku yang masih
mulus tanpa lipatan.
-----0-----
Kini saatnya kurogoh celana dalamku. Dengan melewati 'tahi lalat' yang
berada di tepi celana dalamku, kuelus kemaluanku. Kumasukkan jari-jari
ke belahan kemaluanku dan menggosoknya. Kemudian kuperosotkan celana
dalamku hingga terentang di kedua pahaku dan kembali dengan tangan
kuelus bibir vaginaku yang kini sepenuhnya terbuka. Kulihat kaki Anneke
belum bergerak dari tempatnya. Kupikir, tentunya saat ini dia sedang
mati-matian berusaha menahan gejolak birahinya. Aku tersenyum geli
dengan permainanku sendiri.
-----0-----
Kemudian giliran pantatku. Aku merundukkan badanku setengah menungging
kemudian menggosok-gosok pantat beserta belahannya. Kumasukkan
jari-jariku pada belahan itu dan kutusukkan jari ke lubang analku. Aku
memutar tubuhku hingga pantatku membelakangi pintu agar dari tempat
Anneke nampak gempalnya pantatku yang menurut Indri sangat seksi. Dan
akhirnya kulepas sama sekali celana dalam dari pahaku. Kini saatnya aku
mandi setelah sebelumnya kucuci tangan, jari-jari dan lenganku. Kemudian
kucuci kakiku, jari-jarinya dan betis serta pahaku. Ini selalu
kulakukan untuk menghindari keterkejutan tubuhku yang akan dengan
tiba-tiba tersiram air yang dingin ini. Kemudian kuguyur seluruh
tubuhku.
-----0-----
Gayung air kupenuhi kemudian mulai kuguyurkan dari kepalaku. Kusabuni
seluruh bagian tubuhku. Aku bernyanyi-nyanyi kecil sambil melirik kaki
Anneke di sebelah pintu yang sama sekali tidak bergerak sejak awal aku
masuk kamar mandi tadi. Entah apa yang sedang dilakukannya. Bukan tidak
mungkin tangannya sedang mengocok vaginanya. Setelah mandi aku menyambar
handuk dari gantungannya untuk mengeringkan badan. Kemudian kukenakan
mantelku. Setelah selesai, aku segera keluar kamar mandi dan langsung
menuju ke kamarku. Kulihat Anneke telah kembali duduk manis sambil
berpura-pura membaca koran pagi di ruang keluarga.
-----0-----
Di kamar, aku memasang telinga. Beberapa saat kemudian kudengar Anneke
memasuki kamar mandi. Aku bergegas menuju ke pintunya. Kali ini
gilirankuku yang dibuatnya blingsatan. Kali ini Anneke bukannya langsung
mandi tetapi malahan mengikuti dorongan birahinya dulu. Dia memeriksa
apa-apa saja yang kutinggalkan di gantungan baju di balik pintu. Dia
pasti telah menemukan BH dan celana dalam kotorku. Pertama, dia raih
BH-ku dan diciuminya. Di sini aku melihat adegan yang sangat erotis.
Anneke mengangkat baju kausnya hingga ke atas buah dadanya yang montok
dan ranum itu. Kemudian sambil menciumi BH-ku, tangannya meremasi
payudaranya dengan penuh birahi. Tangannya begitu erat meremas
payudaranya. Jari-jarinya memilin puting-putingnya secara bergantian
antara kiri dan kanan. Anneke mendesah dan merintih nikmat. Kemudian
diraihnya celana dalamku untuk kembali diciuminya. Celana dalam beserta
BH-ku telah berada di tangannya untuk secara bergantian dicium dan
dilumatnya hingga basah kuyup oleh air liurnya, sambil memilin puting
susunya.
-----0-----
Rupanya karena baru saja mengintipku mandi tadi, birahi Anneke dengan
cepat naik hingga ia tak mampu lagi menahannya. Dia segera bergerak
merangkak di lantai. Kutunggu apa yang akan diperbuatnya. Diraihnya
gayung air plastik dari tepi bak mandiku. Tangkainya yang berupa plastik
licin membulat itu dijadikannya dildo untuk merangsang kemaluannya.
Tangan kanannya memegang bibir gayung air itu dan menempelkan tangkainya
ke vulvanya, kemudian ia mencoba memasukkan ke lubang surganya. Dia
terus menusuk-nusukkannya hingga akhirnya pelan-pelan tangkai itu
berhasil menembus vagina dan tenggelam ke dalamnya. Dia mengaduh dan
merintih tertahan. Kulihat kini dia mulai mengocok tangkai gayung air
itu ke lubang kemaluannya. Sementara itu pantatnya bergerak maju mundur
menyongsong tangkai itu. Mungkin dia membayangkan dirinya sebagai anjing
betina yang sedang digasak oleh jantannya. Dia melakukan manuver anjing
betina itu dalam waktu yang cukup lama dan semakin cepat gerakannya.
Aku benar-benar dibuatnya blingsatan. Vaginaku terasa berdenyut-denyut
hingga cairan birahiku mengalir dengan sangat deras.
-----0-----
Nampaknya dia sedang berusaha meraih puncak kenikmatannya. Anneke
mengubah posisinya hingga gayung air yang berbentuk segi empat dengan
tangkainya yang bulat panjang seukuran penis itu tegak lurus ke lantai.
Dia pegang dan dicoba didudukkannya, kemudian diposisikannya lubang
kenikmatannya agar tepat berada di atas tangkai itu. Dan setelah
beberapa kali dia bergerak menekan-nekan ke bawah, akhirnya tangkai
gayung air itu amblas ditelan vaginanya. Anneke kini menggenjot tangkai
itu naik turun seperti layaknya sedang menyetubuhi penis lelaki. Tangan
kanannya terus menahan gayung air itu agar tetap berada di tempatnya
sambil menyandarkan wajah dan memiringkan tubuhnya ke dinding untuk
memberikan kesempatan pada tangan kirinya agar dapat menahan BH dan
celana dalamku untuk dapat terus menciuminya.
-----0-----
Akhirnya, dengan diakhiri desah dan rintihannya yang memburu, cairan
birahi muncrat dari vaginanya. Anneke meraih orgasme untuk kedua kalinya
di bawah sorotan mataku. Aku kembali sangat terkesan melihat apa yang
telah diperbuat Anneke hingga membuat birahiku kambuh lagi. Dan seperti
halnya kemarin, aku segera bergegas ke kamarku. Aku terus teringat dan
terbayang saat Anneke menjadi anjing betina dan melakukan masturbasi
dengan tangkai gayung air kamar mandi tersebut. Aku seakan mendengar
desah dan rintihannya kembali. Aku mengulangi melakukan masturbasi
dengan dildoku hingga aku juga akhirnya meraih orgasmeku berkat tontonan
erotis Anneke tadi.
-----0-----
Tepat pada pukul 10 pagi itu, Anneke keluar dari kamarnya dan berpamitan
untuk berangkat ke kantornya. Aku menitipkan uang untuk dibelikan
buah-buahan sepulangnya dari kantor nanti. Kini aku duduk sendirian di
sofa ruang tamu. Aku menjadi banyak melamun. Sosok Anneke telah memasuki
relung hatiku. Aku jadi merasa kesepian saat dia pergi ke kantornya.
Sampai dengan hari ke-4 sekarang ini, Anneke telah berhasil membuatku
"panas dingin". Ada terselip keinginan untuk mendekatinya secara
terbuka. Tetapi aku memiliki banyak keraguan. Aku khawatir dia belum
siap hingga hubungan kami yang sudah baik ini justru akan rusak. Jadi
kupikir untuk sementara ini, biarlah aku akan menikmati birahiku hanya
dalam khayalan bersama Anneke yang manis ini.
-----0-----
Saat sedang sendirian seperti ini, pikiranku selalu menuju ke arah
seksual. Dan akhir-akhir ini Anneke telah merampas seluruh lamunanku.
Aku sering membayangkan sedang duduk bersamanya di sofa ini. Kemudian
kami saling mengelus paha, saling melumat bibir, saling menjilati
payudara, maupun ketiak kami. Kami akan saling bertukar celana dalam.
Aku akan melepas celana dalamku untuk kuberikan padanya, demikian pula
sebaliknya dengan dia. Dan dengan sepenuh hati, hidungku akan menghirup
dalam-dalam hingga aroma celana dalamnya mengisi seluruh rongga
paru-paruku. Demikian pula sebaliknya dia akan mencium dan bahkan
melumati celana dalamku. Anneke, kapan hal seperti itu akan kita alami?
Kapan kamu memberikan keringat, ludah, ketiak, buah dada, aroma badan
bahkan aroma liang surgamu untuk kuhirup, kucium dan kujilat. Kapan?
-----0-----
Pada pukul 5 sore dia baru sampai kembali ke rumah. Anneke bercerita
bahwa wawancaranya telah selesai dan dia telah dinyatakan lulus. Dia
sangat gembira hingga aku diciumnya dengan meraih kepalaku erat-erat.
Aku terkejut karena Anneke menciumku persis di bibirku, tetapi aku
kembali ragu untuk meresponsnya lebih jauh hingga aku agak menyesal.
Dia bukannya sekedar membawa buah-buahan. Dia bahkan berbelanja karena menurutnya, ini adalah untuk merayakan kegembiraannya atas wawancara yang sukses tadi. Aku ikut bergembira dengan kesuksesannya.
"Mbak saya pengin masak steak kesukaan Mbak. Ajarin, ya".
Dia sangat terampil di dapur. Hanya dalam waktu 20 menit masakannya telah siap. Kami berpesta kecil. Setelah makan, lampu ruang makan kumatikan dengan alasan agar hemat listrik.
Dia bukannya sekedar membawa buah-buahan. Dia bahkan berbelanja karena menurutnya, ini adalah untuk merayakan kegembiraannya atas wawancara yang sukses tadi. Aku ikut bergembira dengan kesuksesannya.
"Mbak saya pengin masak steak kesukaan Mbak. Ajarin, ya".
Dia sangat terampil di dapur. Hanya dalam waktu 20 menit masakannya telah siap. Kami berpesta kecil. Setelah makan, lampu ruang makan kumatikan dengan alasan agar hemat listrik.
-----0-----
Kami kemudian duduk di ruang tamu. Sebenarnya ada maksud lain soal lampu
yang kumatikan tadi. Aku sengaja mematikannya agar ruang makan yang
kebetulan dekat kamar mandi itu menjadi gelap. Anneke belum mandi,
demikian juga aku berlagak belum mandi. Sehabis masak kami kegerahan
hingga keringat mengucur dari tubuh kami. Dengan ruang makan yang gelap,
siapapun yang mengintip kamar mandi tidak akan tampak dari dalam.
Sementara kamar mandinya sendiri pasti akan terang selama digunakan. Aku
sudah memiliki skenario baru untuk acara pengintipan kali ini. Aku jadi
geli sendiri saat memikirkannya.
-----0-----
Aku merasa bahwa dalam 2 hari terakhir ini, antara aku dan Anneke telah
sering saling memperhatikan. Kulihat Anneke sering melirikku dengan ekor
matanya. Biasanya kalau sudah begitu, kudengar dia menarik nafas
panjang dan aku sendiri sulit untuk berlagak acuh saat menghadapi hal
seperti itu. Aku juga sering mencuri pandang padanya saat dia sedang
duduk santai dengan hanya memakai pants-nya. Saat kakinya sedang
mengangkang tanpa disadarinya, atau saat sedang menyilangkan kakinya.
Aku suka sekali pada kakinya yang sensual itu hingga aku sering
membayangkan mengulum jempol, jari-jari maupun betisnya. Terkadang dia
menggunakan blus yang menggantung hingga menampakkan pusarnya. Sulit
bagiku untuk tidak menikmati keindahan pusar seksi itu.
-----0-----
"Mbak atau saya yang mandi dulu?".
Anneke menyadarkan lamunanku. Dari nadanya, tampaknya dia mengingatkanku untuk lebih dulu mandi. Aku menggeliatkan tubuh sambil berdiri mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi. Peralatan untuk mendukung skenarioku telah kuletakkan di sana. Kunyalakan lampu kamar mandi dan kututup pintunya kemudian bernyanyi kecil. Kali ini karena lampu di luar kamar mandi telah kumatikan, ruangan yang biasanya merupakan tempat Anneke mengintip menjadi gelap hingga agak sulit untuk melihat bayangan kakinya di celah bawah pintu. Tetapi aku yakin bahwa Anneke pasti telah berada di sana. Kembali aku melakukan ritual rutin sebagaimana orang akan mandi. Pakaian kubuka satu persatu dengan santai. Setiap kali selembar pakaian lepas dari tubuhku, terlebih dulu kucium, mengesankannya untuk mengetahui apakah pakaian itu sudah kotor atau masih bersih. Kemudian kusampirkan ke paku-paku gantungan pakaian di balik pintu.
Anneke menyadarkan lamunanku. Dari nadanya, tampaknya dia mengingatkanku untuk lebih dulu mandi. Aku menggeliatkan tubuh sambil berdiri mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi. Peralatan untuk mendukung skenarioku telah kuletakkan di sana. Kunyalakan lampu kamar mandi dan kututup pintunya kemudian bernyanyi kecil. Kali ini karena lampu di luar kamar mandi telah kumatikan, ruangan yang biasanya merupakan tempat Anneke mengintip menjadi gelap hingga agak sulit untuk melihat bayangan kakinya di celah bawah pintu. Tetapi aku yakin bahwa Anneke pasti telah berada di sana. Kembali aku melakukan ritual rutin sebagaimana orang akan mandi. Pakaian kubuka satu persatu dengan santai. Setiap kali selembar pakaian lepas dari tubuhku, terlebih dulu kucium, mengesankannya untuk mengetahui apakah pakaian itu sudah kotor atau masih bersih. Kemudian kusampirkan ke paku-paku gantungan pakaian di balik pintu.
-----0-----
Saat aku melepas celana dalamku, celana dalam kotor itu kugunakan untuk
menyapu celah dan bibir vaginaku. Kukesankan melalui gerakanku bahwa ada
kotoran yang membuat kemaluanku gatal. Dan sebelum kugantung, kuendus
aromanyadan kutampakkan wajahku dengan ekspresi menyeringai seakan tidak
tahan dengan aromanya. Kuperkirakan dengan melihat adegan yang
kuperankan ini, Anneke pasti akan terobsesi. Aku sudah membayangkan
betapa tinggi keinginannya untuk menciumi celana dalamku ini nanti.
Kembali aku merasa geli membayangkannya.
-----0-----
Sekarang akan kujalankan skenario yang telah kupersiapkan. Skenario ini
adalah dildo yang kukesankan seolah dengan sengaja kusembunyikan dalam
kamar mandi. Aku membuka dan mengangkat tutup kloset. Dildo tersebut
kurekatkan dengan selotip di balik penutup kloset. Kukesankan bahwa itu
memang tempat rahasiaku, agar Mas Adit tidak pernah mengetahuinya.
Kulepas selotipnya dan kuambil dildo itu. Kemudian kuguyur dan kucuci
dengan air. Dildo ini adalah pemberian Indri, terbuat dari silikon
bening warna biru yang kenyal, agar saat memegang terasa seperti
memegang penis sungguhan. Bentuknya besar dan memanjang, dengan setiap
ujungnya persis menyerupai kepala penis, hingga dildoku ini sangat
merangsang dan akan membuat "dag dig dug" setiap perempuan yang
mendambakan penis super besar.
Dildo itu kucium, kemudian kujilat-jilat sepanjang batangnya dan kemudian ujungnya kukulum.
Dildo itu kucium, kemudian kujilat-jilat sepanjang batangnya dan kemudian ujungnya kukulum.
-----0-----
Mulutku maju mundur mengulum batangnya yang erat berada dalam
genggamanku. Aku melakukan gerakan seakan sedang memompa penis ke
mulutku. Mataku terbuka terpejam merasakan betapa nikmatnya penis ini
hingga aku mendesah. Kemudian kubawa dildo itu menyentuh leherku,
menyusuri bawah dagu, ke samping rahang dan turun ke jenjang serta
lipatan leherku. Kuperlihatkan ekspresiku yang menahan kenikmatan
birahi. Terus kualihkan dildo itu ke dadaku. Kutuntun kepalanya
menelusuri lekuk-lekuk buah dadaku. Kubenam-benamkan ke putingku. Aku
menjerit tertahan sambil menggigit bibirku menahan nikmat. Kepala dildo
itu juga kutuntun ke ketiakku untuk kugosok-gosokan di sana. Pandanganku
mengarah ke langit-langit sambil mataku berkejap-kejap.
-----0-----
Kubawa dildo tersebut lebih ke bawah lagi, ke perut dan pusarku serta
menggosok bulu-bulu kemaluan halusku. Dan lebih ke bawah lagi, kueluskan
dildo tersebut ke kanan dan kiri selangkanganku sebelum akhirnya
menyentuh vaginaku. Dan saat dildo tersebut mendesak bibir vaginaku,
kembali aku menjerit tertahan. Betapa nikmat rasanya saat dildo itu
menyentuhi klitorisku. Kutusuk-tusukkan kepala dildo itu ke ambang
vaginaku. Kini aku tidak lagi berpura-pura. Aku merasa benar-benar
terangsang. Cairan birahiku keluar hingga melicinkan bibir vaginaku.
Terjangan kepala dildo itu lama-lama semakin menusuk kemaluanku.
Kenikmatan vaginaku tak bisa lagi kupungkiri. Kini aku benar-benar
mendesah dan merintih. Kini aku ingin agar kemaluanku melahap dildo itu
hingga akhirnya kakiku kuangkat hingga berpijak ke tepi bak mandi.
Dengan selangkangan yang terbuka, dildo itu mulai kupompakan secara
ritmis dengan disertai desahan dan erangan nikmat yang melandaku.
-----0-----
Belum juga reda nafsu birahiku, kini aku merangkak ke lantai kamar
mandi. Aku menungging. Kumasukkan dildo itu ke liang surgaku dari arah
belakang. Tangan kananku kembali memompanya. Pantatku kugoyang-goyangkan
agar dapat lebih membantu menyongsong pompaan dildo itu. Kini aku
benar-benar dilanda nafsu. Aku menginginkan agar orgasmeku lekas hadir.
Tangan kananku mempercepat pompaan tersebut. Rasanya aku ingin telentang
di lantai. Dengan menyenderkan sebagian kepalaku ke dinding yang
menghadap ke arah pintu, aku telentang di lantai dengan paha yang kubuka
lebar. Dari arah depan, tanganku kembali memompakan dildo itu ke
kemaluanku. Samar-samar kulihat kaki Anneke di celah bawah belakang
pintu. Ternyata itu bukan kaki melainkan lututnya. Rupanya Anneke juga
telah terhanyut oleh apa yang sedang disaksikannya. Mungkin kini
tangannya juga sedang meremasi payudaranya atau mengocok kemaluannya.
-----0-----
Akhirnya dengan posisiku yang telentang di lantai kamar mandi ini, aku
meraih orgasme. Aku nyaris tak mampu lagi untuk menahan teriakan karena
nikmat yang melandaku. Cairan birahiku muncrat keluar dari vaginaku.
Perasaan kelegaan langsung hadir menenangkan gelombang libidoku. Aku
mulai menarik nafas panjang. Setengahnya aku merasa geli di hatiku.
Permainanku ternyata seperti senjata makan tuan. Aku sendirilah yang
setengah mati dikejar nafsu birahiku. Pelan-pelan aku berdiri.
Kuletakkan kembali dildoku di atas kloset. Dan kemudian aku mandi.
Sebelum keluar, kukembalikan dildoku ke bawah tutup kloset dan
kurekatkan kembali selotipnya.
-----0-----
Aku berusaha agar tampak biasa-biasa saja. Tak kulihat Anneke, mungkin
sedang berada di kamarnya. Aku menuju ke kamarku sendiri kemudian
menyisir rambut dan mengenakan daster malam. Saat keluar, kulihat pintu
kamar mandi sudah tertutup kembali. Kini adalah giliran Anneke untuk
mandi. Sebenarnya aku tidak begitu berminat lagi untuk mengintip Anneke
karena gejolak birahiku sudah mereda. Tetapi toh, aku ingin juga melihat
apa sebenarnya yang dilakukan oleh Anneke di kamar mandi sekarang ini.
-----0-----
Aku berjingkat mengintip. Kulihat dia tinggal mengenakan BH dan celana
dalamnya. Kemudian kulihat Anneke memerosotkan setengah celana dalamnya
kemudian berjongkok ke lantai untuk pipis. Kuperhatikan air kencingnya
yang sangat deras, mancur dengan kuat dari lubang vaginanya. Cairan
kekuningan yang pekat bening itu, ingin rasanya kucoba agar membasahi
tanganku, mencuci tanganku dengannya dan kemudian akan kujilati tanganku
yang basah. Biar tanganku menadahinya, agar dapat kucuci mukaku dengan
air seni Anneke yang cantik ini. Akan kujilati lantai yang basah oleh
air seninya. Begitu melihat air seninya, birahiku yang telah reda
kembali terbakar.
-----0-----
Selesai pipis, dia bangkit sambil mengembalikan celana dalamnya.
Kemudian dengan sangat perlahan dia merunduk untuk membuka penutup
kloset. Diraih kemudian dilepaskannya dildo yang kutempelkan di balik
penutup itu. Dia tidak mencucinya lagi, walaupun sebelumnya dia juga
melihatku membiarkannya belum dicuci setelah kupakai untuk memuaskan
birahiku tadi. Bahkan dijilatinya bekas-bekas dari cairan birahi
kemaluanku. Diciumnya dildo bekas pakaiku itu. Dia jilati sepanjang
batangnya, kemudian bibirnya mengulum-ngulumnya. Dikeluarkannya buah
dadanya dari BH-nya, kemudian digosok-gosokkannya dildo itu di sana. Dia
gesek-gesekkan ke putingnya secara bergantian, kanan dan kiri sembari
mendesah pelan. Belum puas juga, dia masukkan dildo itu ke BH-nya dari
arah bawah dan digosok-gosokkannya kembali.
Selanjutnya seolah mengikuti route yang telah kulakukan tadi, ia menggosokkannya ke ketiak, perut, bulu kelamin, selangkangan dan pusarnya. Wajahnya menengadah ke langit-langit dengan matanya yang sayu menahan kenikmatan.
Selanjutnya seolah mengikuti route yang telah kulakukan tadi, ia menggosokkannya ke ketiak, perut, bulu kelamin, selangkangan dan pusarnya. Wajahnya menengadah ke langit-langit dengan matanya yang sayu menahan kenikmatan.
-----0-----
Aku sangat terpesona melihat bibirnya yang setengah terbuka sambil
menampakkan desah nafasnya yang memburu. Kemudian tangan kirinya
menyibakkan tepian celana dalamnya. Dia sentuhkan kepala dildo itu ke
vaginanya. Kupikir, pasti kelentit dan bibir vagina Anneke saat ini
sangat kegatalan karena birahi. Dengan tanpa membuka celana dalamnya,
kini dildo itu dia dorong masuk ke dalam vaginanya. Dengan tanpa
kesulitan sama sekali, Dildo sepanjang 25 cm itu setengahnya tertelan
masuk. Pelan-pelan dan dengan sepenuh perasaan, kini Anneke memompa
kemaluannya. Sambil mendesah dan menggigit bibir, pantatnya maju mundur
menerima tusukan ritmis dari dildo itu. Nafsu birahiku yang sudah
menyusut reda kemudian kembali terbakar setelah menyaksikan Anneke
membuang air seninya, kini menggelegak kembali menyaksikan pemandangan
yang sangat mempesona itu hingga aku meneguk air liurku.
-----0-----
Tanpa melepas dildo dari kemaluannya, Anneke mengubah posisinya. Seperti
posisi kemarin, dia merangkak dan menungging dengan pantatnya menghadap
ke pintu. Dilanjutkannya mengeluarmasukkan dildo ke vaginanya.
Pantatnya kini maju mundur dengan cepat mirip seperti anjing kawin.
Tangannya mengocok dildo itu dengan cepat ke lubang surganya. Aku tidak
tahan lagi mendengar Anneke merintih seperti itu. Kudengar dia sangat
menderita. Tangannya yang mengocok dengan kencang belum juga membuatnya
mencapai kepuasan. Dia kembali bergeser dan telentang ke lantai.
Pantatnya diangkat hingga lututnya terlipat ke arah tubuhnya. Aku
kembali melihat lubang pantatnya hingga membuat air liurku mengalir
keluar. Vaginanya kini terbuka ke atas menantikan kembali tusukan
dildonya. Kemudian sesudah menempatkan kepala dildo itu tepat pada bibir
kemaluannya, tangannya menekan hingga sebagian dildo itu amblas
menghunjam vaginanya. Kemudian Anneke memompanya kembali. Nampak bahwa
dia begitu merasakan setiap tusukan dildo tersebut.
-----0-----
Pada setiap tusukan dan tarikan selalu disertai dengan desah nikmatnya
sampai dengan akhirnya dia mempercepat frekuensinya. Dan tak ayal lagi,
kini Anneke nampak mulai menapaki titik orgasmenya. Dia percepat tusukan
dan tarikan dildonya. Tanpa sadar tanganku ikut memeras buah dadaku.
Aku juga mengerang tertahan, sambil menggigit bibir karena menahan
nikmat nafsu yang datang melanda. Akhirnya kulihat Anneke menggelepar di
lantai kamar mandi. Semua bagian tubuhnya menggelinjang liar tak karuan
menyertai vaginanya yang memuncratkan cairan birahi. Aku menahan
nafasku. Aku beranjak ke depan untuk duduk di ruang tamu menyandarkan
tubuhku di sofa karena dengan melihat ulah Anneke yang sedemikian liar
dan kehausan, aku jadi ikut lelah.
-----0-----
Hari ke-5
-----0-----
Hari ini Anneke pergi ke kantornya untuk mengambil Surat Keputusan
Direksi (SKD) mengenai penerimaannya sebagai karyawan serta penetapan
tanggal masuk kantornya di sebuah perusahaan PMA yang bergerak dalam
bidang minyak dan gas bumi. Pagi dini hari Anneke sudah buru-buru mandi.
Rencananya dia akan menumpang mobil Mas Adit ke kantor barunya itu.
Tetapi saat dia menelepon koleganya, dia diberitahu bahwa dia dan
teman-temannya baru akan diterima direksi pada pukul 2 siang nanti. Jadi
dia memutuskan akan berangkat sekitar pukul 12 agar tidak terlalu lama
menunggu di kantor hingga rencananya menumpang Mas Adit pun dibatalkan.
Setelah menemani Mas Adit makan pagi hingga berangkat ke kantor, Anneke
sibuk dengan urusan persiapan kantor barunya sementara aku pergi mandi.
-----0-----
Terus terang hatiku senang saat Anneke tidak jadi berangkat pagi. Dan
kemudian berharap dia akan mengintipku saat aku mandi pada pagi ini. Aku
sudah mempersiapkan kejutan baru untuknya. Tetapi sebaliknya ternyata
justru aku yang tertimpa kejutan. Begitu aku masuk ke kamar mandi, aku
mendapatkan apa yang diam-diam selama ini telah kudambakan selama 3 hari
terakhir ini. Aku mendapatkan celana dalam dan BH Anneke yang
tertinggal dan tergantung di dekat pintu. Hal ini terjadi mungkin karena
mandi pagi Anneke yang terburu-buru tadi. Wajahku tersirap. Aku
menggigil karena birahi yang langsung menamparku. Aku terpana. Segala
skenarioku tidak kuperlukan lagi. Di kamar mandi ini aku menemukan opsi
lain yang jauh lebih menggetarkan.
-----0-----
Mendekati celana dalam Anneke, aku langsung limbung. Membayangkan bahwa
hidungku akan menikmati aromanya. Dengan memandang BH kotor Anneke,
mataku jadi nanar. Aku akan memuaskan birahi dengan menjilati dan
menciumi aroma keringatnya. Berat rasanya menahan diri untuk tidak
menyentuh sebelum saatnya. Tetapi kudekatkan juga wajahku, kuamati
celana dalam juga BH-nya yang tidak baru itu. Nampak warna pekat
kekuningan pada celah sempitnya. Kudekatkan hidungku untuk mengendusnya.
Kulirik kaki Anneke yang ternyata sudah bersiap mengintipku lagi dari
balik pintu. Kini saatnya "live show" dimulai. Pemain dan penonton
tunggal sudah siap berada di tempatnya masing-masing. Birahi
"exhibitionist"-ku telah mengantarkanku ke arena pertunjukan.
-----0-----
Intronya adalah aku akan buang air dulu sebelum mandi. Ini tak bisa
kuhindari karena sebelumnya memang dengan sengaja aku menahannya sejak
bangun pagi tadi untuk maksud ini. Aku yakin Anneke akan menyaksikan
adegan ini dengan resah dan gelisah. Sayangnya, tak ada cara untuk
mendekatkan hidungnya agar dapat menangkap aroma beban pagiku ini. Untuk
mengisi waktu selama aku buang air, aku bergaya seolah sedang
membersihkan kotoran dari tubuhku. Aku menggosok dan mengelus leherku,
kemudian turun ke buah dadaku. Kukeluarkan payudaraku dari BH dan
kupilin putingnya, kemudian kugosok dan kuelus ketiakku. Di sela-sela
itu, wajahku terkadang menyeringai sambil menggigit bibir, entah
menggambarkan apa, yang penting aku berusaha menunjukkan ekspresi erotis
agar dapat dinikmati dan dapat merangsang birahi Anneke.
-----0-----
Aku memikirkan cara yang atraktif dan efektif saat cebok. Pertama, saat
tangan kiriku meraih dan menghapus kotoran dari analku, terlebih dahulu
kuangkat dan kuamati serpihan yang masih menempel di jari-jari, kuendus
sekilas sebelum kembali ke anal sambil tangan kananku menyiram dengan
air ke tempat itu. Kemudian saat aku mencuci vagina, aku berusaha
mengekspose penampilannya dengan cara yang tak kentara memposisikan
diriku agar caraku menceboki vaginaku menjadi nyata dan jelas saat
diintip dari celah pintu. Sebelum memasuki episode berikutnya, kutarik
handle pelepasan air hingga klosetku bersih kembali. Kuperhitungkan
bahwa tindakanku ini akan membuat Anneke merasa sangat kecewa.
-----0-----
Selanjutnya kubuka pakaianku kecuali celana dalam dan BH. Dan inilah
kejutan yang telah kupersiapkan untuk Anneke. Tanganku meraih BH
kotornya dari gantungan baju. Kurentangkan, kucium dan kemudian kujilati
serta kulumat-lumat hingga kuyup oleh ludahku. Mulutku berusaha
menyedot basah ludah di kain BH itu hingga setelah puas, kukalungkan ke
leherku. Kini tanganku meraih celana dalamnya. Sebagaimana sebelumnya,
kembali kucium dan kemudian kurentangkan. Nampak warna pekat kekuningan
di bagian sempitnya yang biasa terjepit di bibir vagina dan belahan
pantat Anneke. Aku tidak sabar lagi hingga kembali kuciumi bagian itu
dan kulumat hingga kuyup.
-----0-----
Rasanya aku tidak puas-puas juga. Sambil terus menyedot bagian kuyup
itu, tangan kiriku mengocok kemaluanku. Kumasukkan jari ke lubang
vaginaku. Kukorek-korek untuk mengurangi gatal birahi yang demikian
mendesak-desak nafsuku. Tiba-tiba rasa birahi yang menyeruak membuatku
ingin pipis hingga sekalian saja celana dalam Anneke kupipisi juga.
Sungguh sangat erotis nampaknya. Dan kembali kucium dan sedikit kuhisap
basah air seniku di celana dalam itu sebelum akhirnya kugantungkan
kembali bersama dengan BH-nya ke dekat pintu.
-----0-----
Aku melirik ke bawah pintu. Kaki Anneke masih tetap di sana. Kurasa
sudah lebih dari 15 menit aku mendekam di kamar mandi sejak intro buang
air tadi. Walaupun aku sangat "horny", tetapi aku belum menuntaskan
libidoku hingga mencapai orgasme karena lelah. Kusimpan energiku untuk
lain kesempatan. Kini aku benar-benar mandi untuk membersihkan seluruh
tubuhku. Aku merasakan sedemikian segarnya mandi pagi ini. Aku menikmati
bayanganku tentang bagaimana Anneke menjadi panas dingin saat mengintip
kegiatan mandiku pagi ini. Kurasa dia akan mengambil celana dalamnya
yang telah basah oleh kencingku tadi. Mungkin saja dia akan mengambilnya
untuk dibawa ke kamarnya dan kemudian menjilati atau menyedot air
seniku yang terserap di celana dalamnya.
-----0-----
Setelah mandi kulihat Anneke telah berada di ruang keluarga dengan
setumpuk berkas-berkas untuk persiapannya ke kantor siang ini. Saat aku
sedang berpakaian, kudengar derit pintu kamar mandi. Aku juga mendengar
tutup kloset yang dibuka seakan dia sedang buang air. Tidak lebih dari 2
menit, pintu berderit kembali. Aku yakin bahwa Anneke sangat kecewa
saat mengamati kemungkinan akan adanya sisa kotoran dan air seniku yang
dipikirnya masih tertinggal di kloset, ternyata sudah raib tertelan bumi
hingga ia hanya dapat mengambil celana dalam dan BH-nya yang
tertinggal. Dia tahu kini bahwa aku dan dirinya saling terobsesi birahi
untuk saling mencium dan menjilat apapun yang keluar dari tubuh-tubuh
kami. Dia seharusnya tidak merasa perlu lagi untuk merasa sungkan
ataupun malu padaku untuk langsung masuk ke kamarku. Kurasa telah cukup
waktu bagi Anneke untuk bermasturbasi dengan dildo yang kutinggalkan
sebelum dia keluar pada pukul 11.40 dengan pakaian rapinya dan
bersiap-siap berangkat ke kantornya.
-----0-----
Hari ini pada pukul 4 sore dia telah kembali. Dari SK Direksi telah
ditetapkan bahwa Anneke akan mulai masuk kantor pada awal bulan depan.
Dia berkata bahwa kalau Mas Adit dan aku mengijinkan, maka untuk
sementara Anneke akan ikut kami dulu selama beberapa waktu sebelum
mendapat tempat kost yang dekat dengan kantornya. Aku dan Anneke saling
memandang hingga terasa ada sesuatu yang menyesakkan dada kami. Kami
melayang dengan pikiran kami masing-masing. Tetapi entah, aku tidak
mampu berbuat lebih. Kehendak hati kecilku yang diwarnai gejolak birahi
beberapa hari terakhir ini tidak mampu kuungkapkan dan kuwujudkan
menjadi kenyataan. Demikian pula dengan Anneke. Kegembiraannya berkaitan
dengan kepastian bahwa dirinya telah diterima bekerja di perusahaan
asing tetap tidak bisa menutupi rasa kecewa pada angan-angannya untuk
meraih kenikmatan birahi bersamaku yang sama sekali belum terungkapkan
sebagaimana yang terjadi juga padaku. Dia khawatir bahwa dirinya telah
bertepuk sebelah tangan karena selama ini dia belum mengetahui bahwa
sebenarnya aku juga mengintipnya saat dia mandi. Belum nampak adanya
solusi yang tepat untuk meraih obsesi bersama kami ini.
-----0-----
Hari ke-6
-----0-----
Anneke memintaku menemaninya membeli oleh-oleh dan pesanan orang tuanya
ke Mall Mangga Dua. Setelah menyelesaikan kebutuhannya, sebelum makan
kami sedikit melakukan "window shopping". Kami makan di restoran siap
saji yang banyak berserak di mall itu. Ini adalah hari terakhir Anneke
di Jakarta setelah sukses menyelesaikan urusan pekerjaan di kantor
barunya. Saat pulang kami pergi ke stasiun Gambir untuk mengambil tiket
KA Eksekutif yang telah Anneke pesan beberapa hari sebelumnya.
Kuperhatikan Anneke banyak berdiam diri. Aku tidak ingin mengganggunya.
Nampak ada beban yang masih mengganjal dalam dirinya. Dan dapat
kupastikan itu adalah beban birahinya yang belum terselesaikan dengan
tuntas. Seharian aku berjalan bersamanya dan kuperhatikan berkali-kali
dalam berbagai kesempatan, dia mencuri pandang padaku. Dia perhatikan
leher, dada, belakang kuduk, ketiak, pinggul, pantat, paha, betis,
pokoknya semua bagian tubuhku tak ada yang luput dari perhatiannya.
Terkadang terdengar hingga ke telingaku saat dia menarik nafas menahan
gejolaknya. Aku merasa kasihan padanya karena Anneke terlampau obssesive
menghadapiku kali ini. Mungkin dia sudah cukup lama mendambakanku
seperti ini. Di tengah keluarga Mas Adit, sering kudengar mereka
demikian seringnya memuji kecantikanku. Aku sering menjadi sungkan dan
malu sendiri, disamping terselip juga rasa berbunga-bunga tentunya.
Bukan tidak mungkin, hal ini juga didengar oleh Anneke hingga kemudian
dia salurkan dorongan obsesinya saat berkesempatan ke Jakarta dan
tinggal di rumahku.
-----0-----
Sementara, walau bagaimanapun juga aku tetap harus berusaha untuk
menjaga jarak. Aku tidak ingin dianggap mengajarkan sesuatu yang tidak
baik di tengah keluarga Mas Adit karena tentu mereka akan sulit menerima
kenyataan tersebut. Mereka adalah orang-orang yang sudah sedemikian
ketatnya terkondisikan oleh pandangan-pandangan moral mapan yang tak
begitu saja bisa diubah. Anneke merupakan generasi muda dengan
perkecualian yang sangat minoritas. Dia sudah dapat lebih melihat dunia
nyata yang demikian luas. Dia sering menjelajahi jaringan dunia tanpa
hambatan yang kita sebut sebagai Internet. Dia juga sudah menyadari akan
pentingnya sikap dan karakter pilihannya sendiri. Dia sudah sadar
mengenai pentingnya seseorang bersikap dan berlaku sebagai "myself" ,
untuk dapat menunjukkan keberadaannya di lingkungannya. Dia adalah
cermin generasi masa kini dan masa datang. Dia membawa sendiri
nilai-nilai dan sekaligus dia laksanakan nilai-nilai itu, walaupun
seperti yang kulihat sekarang, dia juga belum sepenuhnya terbebas dari
keragu-raguan. Kuanggap itu adalah hal yang wajar dan manusiawi, karena
pada masa kini tidak semua orang dapat berlaku sembrono atau
serampangan.
-----0-----
Beberapa saat setelah sampai di rumah, aku langsung mandi. Aku ingin
agar dia mendapatkan kesenangan yang benar-benar memuaskan hatinya
sebelum dia pulang ke Madiun besok. Aku pergi ke kamar mandi hanya
dengan lilitan handuk di tubuh. Kuperlihatkan sedikit pahaku dan cukup
banyak memperlihatkan punggung serta bagian atas dadaku yang mulus. Aku
berpura-pura mengambil sesuatu di tumpukan koran dekat Anneke yang
kebetulan sedang menonton TV di ruang keluarga. Aku menanyakan apakah
barang-barang yang akan dibawanya pulang besok sudah dibungkus. Kalau
belum aku menawarkan padanya untuk menggunakan kantong-kantong yang
masih bagus yang sering kudapatkan saat aku berbelanja dan sengaja aku
kumpulkan. Mata Anneke nampak nanar memandang tubuhku sambil menyetujui
tawaran baikku. Kemudian aku berjalan ke kamar mandi.
-----0-----
Ah, rupanya kembali kutemukan celana dalam dan BH kotornya.
Jangan-jangan ini disengajanya karena dia demikian menikmati saat
mengintipku dan demikian bernafsu melumati barang-barangnya kemarin sore
hingga kini dia berharap agar aku mengulanginya kembali. Ini adalah
celana dalam dan BH kotor lain yang ditinggalkannya saat mandi tadi
pagi. Aku kembali menggigil karena nafsu birahiku.
"Jangan khawatir Anneke, aku akan mengulangi kenikmatan menciumi dan melumati celana dalam dan BH kotormu", batinku.
Aku melirik ke bawah pintu. Kulihat kaki Anneke sudah kembali bersemayam di sana. Seperti halnya kemarin, aku mulai dengan membuka kloset dan duduk di atasnya. Tetapi kali ini bukannya untuk membuang air besar, melainkan hanya sekedar pipis. Aku pipis banyak sekali karena telah minum macam-macam di Mangga Dua tadi. Dari Coca Cola, air mineral, dawet asli Solo, es kunyit asam, es kelapa muda dan lain-lain. Pokoknya kalau merasa haus, aku biasanya langsung mencari minum. Di setiap sudut Mall Mangga Dua memang selalu ada kios kecil yang menyediakan minuman berbagai rupa.
"Jangan khawatir Anneke, aku akan mengulangi kenikmatan menciumi dan melumati celana dalam dan BH kotormu", batinku.
Aku melirik ke bawah pintu. Kulihat kaki Anneke sudah kembali bersemayam di sana. Seperti halnya kemarin, aku mulai dengan membuka kloset dan duduk di atasnya. Tetapi kali ini bukannya untuk membuang air besar, melainkan hanya sekedar pipis. Aku pipis banyak sekali karena telah minum macam-macam di Mangga Dua tadi. Dari Coca Cola, air mineral, dawet asli Solo, es kunyit asam, es kelapa muda dan lain-lain. Pokoknya kalau merasa haus, aku biasanya langsung mencari minum. Di setiap sudut Mall Mangga Dua memang selalu ada kios kecil yang menyediakan minuman berbagai rupa.
-----0-----
Selesai pipis aku cebok dan kloset kututup tetapi tanpa membuka
pelepasan airnya. Kubiarkan air seniku tetap di tempatnya. Wajahku
demikian nanar memandang ke arah pintu dimana celana dalam dan BH Anneke
masih tergantung di dekatnya. Kemudian aku meraihnya BH dan celana
dalam sambil menciuminya dan mendesahkan nama Anneke. Aku menjadi
benar-benar sangat menjiwai dan terangsang. Dengan terburu-buru, sambil
sangat gemetar kubuka tutup air kloset. Kuambil dildo yang kuletakkan
menempel di sana. Dengan tetap menjilati dan melumat celana dalam
kotornya, kupompakan dildo tersebut ke vaginaku. Aku sudah tak sempat
lagi mencari gaya-gaya yang atraktif karena kini aku sedang dikejar
gejolak birahiku. Aku melakukan apa saja y