Selepas
SMU, aku tinggal dengan salah satu keluarga dari ortu aku di ibu kota
propinsi. Maksudnya untuk mempermudah mencari pekerjaan karena ortu aku
gak sanggup membiayai sekolahku lebih
tinggi lagi. Karena tidak punya keahlian apa2 dan tanpa pengalaman
kerja, maka aku ikut kursus komputer dulu supaya bisa bekerja di bagian
IT. Kata orang, bagian ini banyak membutuhkan karyawan. Karena
kegiatanku hanya mengikuti kursus maka aku mempunyai banyak waktu luang.
Daripada bengong, pada waktu luang, aku mengantarkan balita anak
keluarga dimana aku numpang untuk ikut semacam play group yang
diselenggarakan oleh satu LSM agama.
Sekolahnya hanya 3 jam, makanya aku tungguin aja sampe selsai sekolahnya, daripada mondar mandir ngabisin bensin motor. Lagian disana banyak juga ibu2 yang nungguin anaknya sekolah. Sembari nunggu ya apa lagi yang bisa dikerjakan selain ngerumpi. Karena aku bukan ibu2, sering aku males ikutan nerumpi dengan para ibu2 itu, karena yang dirumpiin adalah gosip tentang artis, ato ngomongin ibu2 yang laen, yeng kebetulan gak nganter. Bosen kan kalo aku mesti ikutan ngegosip kaya gitu. Aku seringnya diem aja dan dicuekin sama ibu2 yang laen. Pagi itu, selagi makan bakso aku duduk didepan rumah sebelah sekolah itu. Kebetulan gak ada ibu2 yang ngerumpi didepan sekolah. Rumahnya besar juga, cuma sepi seakan gak ada penghuninya. Selagi makan bakso, keluarlah seorang bapak2, wah ganteng juga, tinggi dan tegap badannya, atletislah pokoknya. Suka aku ngeliat si bapak ganteng itu. Dia membuka pintu pagernya dan menyapaku, "Kok makannya disitu, kan deket tong sampah". "Gak apa kok pak", jawabku sambil memberikan senyumku yang paling manis. "Duduk diteras aja yuk, aku juga mo makan bakso kok", dia pesen semangkok dan mempersilahkan aku masuk. Aku ikutan masuk kerumahnya, mumpung lagi sepi, kalo enggak pasti aku akan digosipin ma ibu2. "Pak, gak enak nih, nanti saya jadi sumber gosip ibu2". "Kan kita cuma duduk diluar aja, gak masuk kerumah. Kalo ada ibu yang laen, nanti aku tawarin makan bakso juga deh biar gak digosipin. Aku ... (dia menyebutkan namanya)". "Saya Dina pak". Sambil makan bakso kami ngobrol aja,sampe selesai makan bakso gak ada ibu2 yang menampakkan diri. Ngobrol ma si bapak menyenangkan sekali, mana orangnya ganteng, pinter cerita yang lucu2 sampe aku terpingkel2. Memang sih, guyonannya mengarah ke hal2 yang berbau sex, tapi biasanya kan guyonin sex malah asik kan. Dia seorang pengusaha, keluarganya tinggal dikota laen karena isterinya harus meneruskan usaha ayahnya yang telah meninggal dunia. Jadi si bapak tinggal sendirian dirumah yang besar itu. Sebulan sekali dia pulang kerumah istrinya. Nyetor kali. ketika sekolah dah bubaran, aku pamit.
"Besok2 kita ngobrol lagi ya pak, itu anak yang saya
tungguin dah selesai sekolahnya". "Dah tinggal aja mangkok baksonya, aku
yang bayar sekalian. Boleh dapet nomer hpnya gak Din". Aku memberikan
nomer hpku, dan meninggalkan rumah itu, "Makasih ya pak buat baksonya".
Aku memboncengkan anak yang kujemput dan melambai ke si bapak yang
nungguin aku dipintu pagernya. Sejak pertemuan itu beberapa kali aku
ngobrol dengan si bapak karena kayanya dia jadi nungguin aku pada hari
aku nganter sekolah. Memang sekolahnya gak tiap hari. Cuma mesti
kucing2an sama ibu2 yang laen supaya gak digosipin, kalo rame ya aku
cuma memandangin dia dari jauh aja, si bapak mengerti dengan kondisi
itu. Pada pertemuan terakhir, si bapak bilang, "Din, biar kita
ngobrolnya lamaan, kamu kesininya jangan pas sekolah dong. Kan gak ada
ibu2 yang liat kamu ngobrol dengan aku". "Liat aja ya pak, Dina belon
bisa janji". "Nanti deh aku kontak kamu di hp". Besoknya ada sms dari si
bapak yang minta aku dateng kerumahnya. Aku jawab gak ada motor karena
dipake yang punya rumah. Dia jawab lagi, naik taksi aja, nanti dia yang
bayar. Karena dia mendesakku terus, akhirnya aku iyakan ajakannya.
Aku pamit ma keluargaku mo kerumah temen dan menuju ke rumah si bapak
pake taksi. Dia dah nunggu didepan rumah. Dia membayar ongkos taksinya,
lalu mengajakku masuk kerumahnya. Dia menutup pintu rumahnya. "Kok sepi
pak rumahnya, gak ada pembantu?" "Pembantu kan gak tiap ari datengnya, 2
ari sekali, kerjanya cuma mbersihin rumah dan setrika pakean. Cuci
pakean kan pake mesin cuci. Untuk makan aku siapain sendiri, seringnya
kan aku makan diluar". "Ketika ngobrol ma Dina, Dina gak pernah liat tuh
ada pembantu". "Dia kan kerja didalem, kita kan ngobrolnya diluar".
"Hari ini bukan jadwalnya pembantu kerja ya pak". "Enggak, biar gak
ganggu acara kita", dia tersenyum. "Mangnya kita mo bikin acara apa
pak". "Gak ada apa2 kok, cuma mo ngobrol bebas aja, Kamu tu seksi sekali
deh Din". Wah mulai ngegombal ni bapak. Memang sih, aku kalo jemput tu
anak suka pake blus dan jins yang ketat sehingga bentuk bodiku tercetak
dengan jelas. Dari sononya, dadaku dihiasi dengan sepasang toket yang
montok dan kenceng, pinggangku ramping dan pantatku membulat, sehingga
kalo aku jalan, pantatku ngegeyol mengikuti irama langkahku. Pahaku juga
langsing proporisonal lah dengan tinggi badanku yang rata2. "Masak sih
pak, Rasanya Dina biasa2 aja deh". "Toket kamu besar ya Din, asik dong
pacar kamu". "Dina gak punya pacar kok pak".
"Dikota asalmu juga
gak ada?" "ada, cuma pacaran jarak jauh kan gak sik pak". "Mangnya
ngapain aja kalo pacaran". "Ya biasalah pak, kayak bapak gak pernah muda
aja". "Ramah dong". "Maksudnya", aku gak ngerti arah ucapannya. "Rajin
menjamah maksudnya". Aku senyum2 saja. "Suka diremes2 kan. Mana tahan
cowok kamu liat toket montok gini". "IH bapak, tau aja". "Kan kamu yang
bilang kalo aku kan pernah muda juga. Mo nonton dvd gak Din, ada film
seru neh". "Seru pa saru pak", aku guyon. "Seru dan saru, aku pasang
ya".
Ternyata yang dipasang adalah dvd bokep, prempuannya orang
asia, Thai kayanya, kecil, imut dan lelakinya bule. "Ih pak, bule punya
gede panjang gitu ya, apa muat tuh di ceweknya yang imut banget".
"Ceweknya bukan imut, tapi bersebelahan ma bule tinggi besar ya jadi
kliatan imut". Aku terangsang juga melihat adegan ngemut yang sedang
dilakukan si cewek. "Suka ngelakuin gini juga ma cowok kamu". Aku
terdiam menikmati adegan demi adegan yang sangat merangsang. Dia rupanya
tau kalo aku dah mulai terangsang, dia menggeser duduknya kesebelahku
di sofa. "Dah napsu ya Din. Prempuan yang kumisan kaya kamu pasti
napsunya besar". Memang diatas bibir mungilku ada kumis halus yang cukup
jelas terlihat. Aku biarkan saja kumis halus itu sebab kalo dicukur
kawatirnya jadi makin kasar. Mana lagi kumis gak merusak penampilanku
kok, malah si bapak seneng kayanya ma kumisku. "Bapak sok tau ah". "Tuh
buktinya kamu, baru liat bokep sebentar aja, duduknya dah gak tenang,
dah gatel ya Din". Aku dirangkulnya, pipiku diciumnya. "Kamu cantik
Din", ketika aku menoleh kearahnya dia langsung saja menyamber bibirku
dengan bibirnya.
Aku diciumnya dengan penuh napsu. "Aku terangsang
sekali deh Din liat bodi kamu seksi gini". "Pak....", aku hanya melenguh
saja karena kembali bibirku dikulumnya dengan penuh napsu. Tangannya
segera menyamber toketku, dielusnya pelan dari luar blusku. Aku jadi
menggelinjang, Melihat aku menggelinjang, dia mulai meremas pelan
toketku sehingga aku makin menggelinjang. Pinter sekali dia merangsang
napsuku. "Dah lama gak ngelakuin ya Din". "Ngelakuin apa pak". "Maen".
"Maen apa pak", aku pura2 gak ngerti arah pertanyaannya. "Ngen tot",
katanya to the point. "Ya mo ngelakuin ma siapa pak, kan cowok Dina gak
disini". "Ma aku aja ya", kembali dia mengulum bibirku sembari meremas
gemas kedua toketku bergantian. Tangannya kemudian mulai mengelus2
pahaku. Pahaku dikangkangkan dan elusannya mengarah keselangkanganku.
Karena masih pake jins tebal, gosokan di selangkanganku gak terlalu
terasa. Dvd bokep makin seru, si bule lagi ngegenjot kon tol gede
panjangnya di me mek ceweknya. Aku sudah terangsang sekali karena
tontonan dvd dan elusan tangan si bapak."Lepasin ya pakean kamu, biar
kerasa elusanku", dia tau rupanya kalo gesekan diselangkanganku gak
terlalu terasa. Tanpa menunggu jawabku, dia menarik blusku ke atas. Aku
mengangkat kedua tanganku ke atas juga untuk mempermudah dia melepaskan
blusku. Dia melotot melihat toketku yang tertutup bra yang kayanya gak
muat menampung semuanya. "Din, montok banget deh kamu", katanya sembari
melepas kaitan braku. Terpampanglah toket montokku didepan matanya.
pentilku yang imut dielus2nya dengan telunjuknya. "Sering diemut tapi
masi imut ya Din pentil kamu", Aku makin menggelinjang karena elusan di
pentil aku. Dia mendekatkan mukanya ke pentilku dan mulai menjilatinya,
tangan satu langsung meremas toketku satunya. "aaah pak..," kembali aku
melenguh karena ulahnya. pentilku langsung mengeras. "Pentil kamu dah
ngaceng tuh Din", dia langsung mengemut pentilku dan disedot2nya,
sementara tangannya mulai mengelus2 puserku yang terbuka karena jinsku
yang model hipster. "Pak, geli...", lenguhku lagi. "Geli apa napsu".
"Dua2nya pak". "Lepas juga ya jins kamu". Aku hanya menggangguk. Dia
membuka ban pinggangku, kemudian kancing jins dibukanya, ritsluiting
diturunkan, dan dia mulai menarik jinsku. Karena ngepas badan memang
tidak mudah melepas jinsku. Aku mengangkat pantatku untuk mempermudah
dia melepasnya. Ketika jinsku terlepas, dia melotot lagi melihat
jembutku yang menyeruak dari samping kanan kiri dan bagian atas cd
miniku yang tipis. "Wah lebat banget jembut kamu Din, aku dah duga.
Prempuan yang kumisan pasti jembutnya lebat, dan napsunya gede banget".
Kamu dah napsu ya Din". "Dari tadi pak, abis tangan bapak nakal sih",
jawabku manja.
Dia memelukku dan tangannya meluncur ke toketku.
Jarinya kembali menelusuri toketku, dielus2nya dengan lembut. Aku
terdiam, napasku makin memburu terengah. Pentilku dikilik2nya dengan
jarinya sehingga tambah mengeras, "Paak", lenguhku. Dia langsung saja
meremes2 toketku dengan penuh napsu. Aku bersandar di dadanya yang
bidang. Dia kembali menciumi leherku sementara kedua toketku terus saja
diremes2, sehingga napsuku makin berkobar. Dia segera mengecup bibirku.
Kubalas dengan ganas. Bibirku dikulumnya, lidahnya menjalar didalam
mulutku sementara tanganku segera turun mencari kon tolnya. Kuusap2,
terasa sekali kon tolnya sudah ngaceng berat, keras sekali. Segera ikat
pinggangnya kubuka, celananya kubuka. Dia berdiri sehingga celana
panjangnya meluncur ke lantai. kon tolnya yang besar itu nongol dari
bagian atas CD nya yang mini, hampir menyentuh pusernya saking
panjangnya. Kami segera bergelut. Dia terus meremas-remas toketku
sementara aku mengocok kon tolnya. "Pak, keras banget, gede lagi",
kataku sambil jongkok didepannya, melepas cdnya dan menciumi kon tolnya
dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya. "Aah Din,
kamu pinter banget bikin aku nikmat", erangnya. "Aaaduuuuuhh….
Din…..enak banget emutanmu". kon tolnya kujilati seluruhnya kemudian
kumasukkan ke mulutku, kukulum dan kuisep2. Kepalaku mengangguk2
mengeluar masukkan kon tolnya di mulutku. Aku makin terangsang ketika
mengemut kon tol besarnya. Akhirnya dia gak tahan lagi. Bajunya
dilepaskannya sehingga dia telanjang bulet, sedang aku masi memakai cd
miniku yang tipis nerawang. Aku ditariknya ke kamarnya, sebelumnya dvd
dimatikan karena sudah tidak kutonton sejak dia mulai meraba2 tubuhku.
Aku dibaringkannya diranjang. Sambil terus meremas2 toketku tangan
satunya mempermainkan jembutku yang lebat dari luar cdku. "Pak, geli",
erangku. "Geli apa nikmat Din", tanyanya. "Dua2nya pak, Dina dien tot
dong pak, udah kepengin banget nih", kataku to the point. Tangannya
menyusup ke punggungku sambil mengecup bibirku. "Din kamu napsuin banget
deh", katanya sambil melepas cdku. Aku mengangkat pantatku sehingga
cdku dengan mudah meninggalkan tempatnya.
Dia langsung saja
menindihku. kon tolnya diarahkan ke belahan no nokku yang sudah basah
dan sedikit terbuka, lalu dia menekan kon tolnya sehingga kepala kon
tolnya mulai menerobos masuk no nokku. Aku mengerang keenakan sambil
memeluk punggungnya. Dia kembali menciumi bibirku. Lidahnya menjulur
masuk mulutku lagi dan segera kuisep2. Sementara itu dia terus menekan
pantatnya pelan2 sehinggga kepala kon tolnya masuk no nokku makin dalam
dan bless…… kon tolnya sudah masuk setengahnya kedalam no nokku. "Aah,
kon tol bapak nikmat banget deh", erangku sambil mencengkeram
punggungnya. Kedua kakiku kulingkarkan di pinggangnya sehingga kon tol
besarnya langsung ambles semuanya di no nokku. "Pak, ssh, enak pak,
terusin", erangku. Aku menggeliat2 ketika dia mulai mengeluarmasukkan
kon tolnya di no nokku. Aku mengejang2kan no nokku meremes2 kon tolnya
yang sedang keluar masuk itu. "Din nikmat banget empotan no nok kamu",
erangnya. "Kencang sekali empotannya, mana peret lagi". "Terang saja
peret pak, Dina baru sekali ini ngerasain kon tol sebesar bapak punya
keluar masuk no nok Dina". "Mangnya kon tol cowok kamu kecil ya Din".
"Ketika itu si rasanya gede pak, tapi dah ngerasain kon tol bapak,
kayanya kecil banget deh kon tol cowok Dina". Dia memelukku dan kembali
menciumi bibirku, dengan menggebu2 bibirku dilumatnya, aku mengiringi
permainan bibirnya dengan membalas mengulum bibirnya. Terasa lidahnya
menerobos masuk mulutku. Dia mengenjotkan kon tolnya keluar masuk makin
cepat dan keras, aku menggeliatkan pinggulku mengiringi keluar masuknya
kon tolnya di no nokku. Setiap kali dia menancapkan kon tolnya dalam2
aku melenguh keenakan. Terasa banget kon tolnya menyesaki seluruh no
nokku sampe kedalem. Karena lenguhanku dia makin bernapsu mengenjotkan
kon tolnya. Gak bisa cepet2 karena kakiku masih melingkar dipinggangnya,
tapi cukuplah untuk menimbulkan rangsang nikmat di no nokku. Kenikmatan
terus berlangsung selama dia terus mengenjotkan kon tolnya keluar
masuk, akhirnya aku gak tahan lagi. Jepitan kakiku di pinggangnya
terlepas dan kukangkangkan lebar2. Posisi ini mempermudah gerakan kon
tolnya keluar masuk no nokku dan rasanya masuk lebih dalam lagi. Tidak
lama kemudian aku memeluk punggungnya makin keras "Pak, Dina mau
nyampe". "Kita bareng ya Din", katanya sambil mempercepat enjotannya.
"Pak, gak tahan lagi pak, Dina nyampe pak, aakh", jeritku saking
nikmatnya. Kakiku kembali kulingkarkan di pinggangnya sehingga kon
tolnya nancep dalam sekali di no nokku. no nokku otomatis mengejang2
ketika aku nyampe sehingga bendungan pejunya bobol juga. "Akh Din, aku
ngecret Din, akh", dia mengerang sambil mengecretkan penjunya beberapa
kali di no nokku. Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh
dengan keringat, aku dipeluknya sementara kon tolnya masih tetep nancep
di no nokku. Aku menikmati enaknya nyampe. Setelah gak ngos2an, dia
mencabut kon tolnya dari no nokku. kon tolnya berlumuran lendir no nokku
dan pejunya sendiri. Dia berbaring disebelahku. "Din, akhirnya aku
kesampean juga ngen totin kamu. Sejak pertama ngeliat kamu aku dah napsu
banget ma kamu. Kamu nikmat banget deh kalo dien tot. Kamu yang paling
nikmat dari semua perempuan muda yang pernah aku en tot", katanya sambil
mengelus2 pipiku
"Mandi yuk" ajaknya. "Kan dah kringeten", ketika
melihat ekspresiku yang menanyakan apa gunanya mandi. Kami
bercanda-canda di kamar mandi seperti anak kecil saling menggosok dan
berebutan sabun, dia kemudian menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Aku
duduk dipangkuannya dan tangannya mengusap2 pahaku. "Kamu cantik sekali,
Din", rayunya. Tangannya pidah ke bukit no nokku mempermainkan jembutku
yang lebat. Dia bisa melakukan itu karena aku mengangkangkan pahaku.
Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku. "Geli pak", kataku
ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya.
Segera tangannya meremes2 toketku. "Toket kamu besar ya Din, kenceng
lagi", katanya. "Bapak suka kan", jawabku. “ya Din, aku suka sekali
setiap inci dari tubuhmu", jawabnya sambil terus meremes2 toketku. Dia
kemudian mencium bibirku. Akhirnya usailah kemesraan di kamar mandi.
Kami saling mengeringkan badan, dan kembali keranjang.
kon tolnya
yang belum aku apa2in sudah nga ceng berat, "Pak, napsu bapak besar
sekali, baru saja ngecret di no nok Dina apak sudah ngaceng lagi",
kataku sambil mengocok kon tolnya. "Abis kamu napsuin sekali Din, gak
puas aku cuma sekali ngen totin kamu". Aku menjatuhkan dirinya dipelukan
dadanya yang bidang. Segera dia mengecup bibirku, beralih ke leherku
dan kemudian turun ke toketku. Toketku diremes2nya, aku terengah,
napsuku berkobar lagi. Pentilku diemutnya. Tangan satunya menjalar
kebawah menerobos lebatnya jembutku dan mengilik2 it ilku. "Aakh pak,
pinter banget ngerangsang Dina", erangku. Aku mengangkangkan pahaku
supaya kilikannya di it ilku makin terasa. Kilikan di it ilku membuat
aku kembali liar. Tanganku mencari kon tolnya, kuremes dan kepalanya
kukocok2. Aku pakkit dari pelukannya, kon tolnya yang tegak berdiri
dengan kerasnya. kon tolnya kujilati. Pertama cuma kepalanya aku
masukkan ke mulutku dan kuemut2. Dia meraih pantatku dan menarik aku
menelungkup diatasnya. Dia mulai menjilati no nokku, aku menggelinjang
setiap kali dia mengecup bibir no nokku. Dengan kedua tangannya, dia
membuka no nokku pelan2, terasa lidahnya menjulur menjilati bagian dalam
bibir no nokku. Aku melepaskan emutanku di kon tolnya dan mengerang
hebat, "pak aakh". pantatku menggelinjang sehingga mulutnya melekat erat
di no nokku. "Terus pak aakh", erangku lagi, kemudian terasa it ilku
yang menjadi sasaran berikutnya, aku makin mengerang keenakan. no nokku
makin kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya aku udah napsu
banget. Cukup lama dia mengemut it ilku dan akhirnya "Pak, Dina nyampe
pak, aakh", erangku. "Pak nikmat banget deh, belum dien tot udah nikmat
begini".
Aku memutar badanku kesamping dan berbaring disebelahnya.
Dia bangun dan mencium bibirku. Dia mengambil soft drink dari lemari es
dan diberikannya kepadaku. Aku minum sedikit untuk meredakan napasku
yang ngos ngosan. Kemudian aku dinaikinya, ditancapkannya kon tolnya
keno nokku dan didorongnya masuk pelan2, "Pak, enak, dimasukin semuanya
pak, teken lagi pak, akh", erangku merasakan nikmatnya kon tolnya nancep
lagi di no nokku. Dia mengenjotkan keluar masuk, ketika kon tolnya
sudah nancep kira2 separonya, dia menggentakkan pantatnya kebawah
sehingga langsung aja kon tolnya ambles semuanya di no nokku. "Pak,
aakh", erangku penuh nikmat. Dia mengenjotkan kon tolnya keluar masuk
makin cepet, sambil menciumi bibirku sampe akhirnya, "Pak, Dina nyampe
pak, ooh", aku mengejang2 saking nikmatnya. no nokku otomatis ikut
mengejang2. Dia meringis2 keenakan karena kon tolnya diremes2 no nokku
dengan keras, tapi dia masih perkasa. Kemudian dia mencabut kon tolnya
dan minta aku nungging. Dia menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan
gemas dia menjilati dan mengusapi pantatku. Mulutnya terus merambat ke
selangkanganku. Aku mendesis merasakan sensasi waktu lidahnya menyapu
naik dari no nokku ke arah pantatku. Kedua jarinya membuka bibir no
nokku dan dia menjulurkan lidahnya menjilati bagian dalem no nokku. Aku
makin mendesah gak karuan, tubuhku menggelinjang. Ditengah kenikmatan
itu, dia dengan cepat mengganti lidahnya dengan kon tolnya.
Aku
menahan napas sambil menggigit bibir ketika kon tol besarnya kembali
nancep di no nokku. "Pak", erangku ketika akhirnya kon tolnya ambles
semuanya di no nokku. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk,
mula2 pelan, makin lama makin cepat dan keras. Aku kembali mendesah2
saking enaknya. Toketku diremes2nya dari belakang, tapi enjotan kon
tolnya jalan terus.
Ditengah kenikmatan, dia mengganti posisi lagi.
Aku diajaknya keluar kamar dan dia duduk di sofa di kamar tamu dan aku
duduk dipangkuannya membelakanginya. kon tolnya sudah nancep semuanya
lagi di no nokku. Aku semakin cepat menaik turunkan badanku. Tangannya
gak bosen2nya ngeremes toketku. Pentilku yang sudah keras itu
diplintir2nya. Gerakanku main liar saja, aku makin tak terkendali
menggerakkan badanku, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga kon
tolnya nancep dalem banget. "Pak, Dina dah mau nyampe lagi pak, aduh
pak, enak banget", erangku. Tau aku udah mau nyampe, dia mengangkat
badanku dari pangkuannya sehingga kon tolnya yang masih perkasa lepas
dari no nokku. "Kok brenti pak", tanyaku protes. Aku diselonjorkan lagi
disofa, pantatku ada dipinggiran sofa. Dia berlutut didepanku sambil
memegang dan mengangkangkan pahaku lebar2, kembali ditancepkannya kon
tolnya kedalam no nokku. Dengan sekali enjot, kon tolnya sudah ambles
semuanya. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk dengan cepat.
no nokku mulai berkontraksi, mengejan, meremes2 kon tolnya, tandanya aku
dah hampir nyampe. Dia makin gencar mengenjotkan kon tolnya, dan "Pak,
Dina nyampe lagi pak, akh", jeritku. Diapun merasakan remesan no nokku
karena nyampe. Enjotannya makin cepat saja sehingga akhirnya, "Din..."
dia berteriak menyebut namaku dan terasa pejunya ngecret dengan derasnya
di no nokku. "Pak, nikmat banget ya", tanyaku. Dia mencabut kon tolnya
dan langsung menarikku menuju ke kamar. Diranjang kami terkapar
bersebelahan. Tak lama kemudian aku terlelap karena lemes dan nikmat.
Ketika terbangun hari dah sore. "Din, kamu bilang ke orang rumah kalo
kamu nginep dirumah temen. Jadi kita bisa asik sampe besok. Mau ya". Aku
menggangguk dan nelpon ke rumah dengan hpku memberitahu kalo malem ini
aku ngonep dirumah temen. Kami mandi bersama kembali, kali ini bener2
mandi karena perut dah terasa laper. Selesai mandi, kami berpakean. aku
terpaksa memakai pakeanku yang tadi lagi. "Nanti kita beli baju ganti
buat kamu ya Din, Bilang aja minjem ma temen kamu kalo besok ditanya".
Aku diajaknya ke mal, dia membelikan aku pakean untuk ganti yang aku
pake dari tadi pagi, dalemannya juga dibelikan. Pakean dan daleman baru
langsung kupake setelah dibayar. Gak enak pake pakean dan daleman yang
dari tadi pagi udah aku pake. Pakean dan daleman kotorku dimasukkan aja
ke tas pakean. "Makasi ya pak, bapak baek banget sih". "Kan kamu juga
dah kasi aku nikmat, kita kudu berbagilah. Makan yuk". Dia mengajakku ke
satu resto, aku ikut aja, dia yang pesan makanan dan minuman. Santai
sekali malem ini, kami makan dengan santai sembari guyon2 ngomongin
aktivitas yang baru kita lakuin tadi dirumahnya. "Bapak kuat banget sih
maennya. Kalo maen ma abege pada lemes ya pak. Dina lemes banget deh".
"Tapi nikmat kan". "banget". "Mau lagi kan". "Ya maulah pak". Selesai
makan kami langsung pulang lagi ke rumahnya.
Di kamar, dia
berbaring diranjang dan aku duduk disebelahnya. Pakaian luar sudah
kulepas sehingga aku tinggal berbikini ria, daleman yang aku beli tadi
model bikini. "Din, aku napsu sekali liat badan kamu", katanya terus
terang. Langsung kulirik daerah kon tolnya dari balik celananya,
kelihatannya sudah mulai ngaceng karena kelihatan ngegelembung. Dia
mengelus2 punggungku, terus tangannya pindah mengelus pahaku, merayap
keatas dan menggosok no nokku dari luar CD bikiniku. Aku mengangkangkan
pahaku sehingga jarinya menggosok2 belahan no nokku, tetap dari luar cd.
"Ssh pak", erangku. "Din, kau maukan ngen tot lagi dengan aku",
tanyanya sambil tersenyum, jarinya terus saja mengelus belahan no nokku
dari luar. "Mau banget pak, belum pernah Dina merasa senikmat ini dien
tot". Dia mulai menjilati pahaku, jilatannya perlahan menjalar ketengah.
Aku hanya dapat mencengkram sprei ketika kurasakan lidahnya yang tebal
dan kasar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku yang disingkirkan dengan
jarinya lalu menyentuh bibir no nokku. Bukan hanya bibir no nokku yang
dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang no nokku, rasanya
wuiihh..gak karuan, geli-geli enak. Tangannya yang terus mengelus paha
dan pantatku mempercepat naiknya napsuku. Sesaat kemudian, dia menarik
lepas ikatan cd bikiniku. Dia mendekap tubuhku dari belakang dalam
posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya
yang ditumbuhi jembut yang lebat. Sementara tangan yang satunya mulai
naik ke toketku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang
kasar itu menyusup ke balik bra bikiniku kemudian meremas toketku dengan
gemasnya. "Din, toket kamu besar dan keras. Jembut kamu lebat sekali,
pantas napsu kanu besar" katanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya
serasa menggelitik. Aku hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam
elusan-elusan pada daerah sensitifku. Dia makin getol, jari-jarinya kini
bukan hanya mengelus no nokku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup
bra bikiniku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat
jelas toketku dengan pentil yang sudah mengeras. Aku merasakan kon tol
keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Dia sangat
bernafsu melihat toketku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan
terkadang memilin-milin pentilnya. Remasannya semakin kasar dan mulai
meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi
leherku, terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku
merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai kecupan. Aku
hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit
pendek waktu remasannya pada toketku mengencang atau jarinya mengebor no
nokku lebih dalam. Kecupannya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan
jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang
dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku,
dia menciumiku dengan gemas. Dia bergerak lebih cepat dan melumat
bibirku. Mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu
langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga
lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi, aku
memainkan lidahku di dalam mulutnya.
Setelah puas berciuman, dia
melepaskan dekapannya dan melepas seluruh pakaiannya. Maka menyembullah
kon tolnya yang sudah ngaceng dari tadi. Aku masih takjub pada kon tol
yang begitu besar dan berurat. Terbayang besarnya kenikmatan yang akan
aku dapatkan kembali kalo kon tol extra besar itu keluar masuk di no
nokku. Akupun pelan-pelan meraih kon tolnya, tanganku tak muat
menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. "Ayo Din, emutin kon tolku"
katanya. Kubimbing kon tol dalam genggamanku ke mulutku , uuhh.. susah
sekali memasukkannya karena ukurannya. Terasa asin waktu lidahku
menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku
lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain mengemut tanganku turut
aktif mengocok ataupun memijati biji pelirnya. "Uaahh.. ennakk banget,
kamu udah pengalaman yah" ceracaunya menikmati emutanku, sementara
tangannya yang bercokol di toketku sedang asyik memelintir dan memencet
pentilku. Tangan kanannya tetap saja mempermainkan no nok dan it ilku.
Aku menggelinjang gak karuan, tapi kon tolnya tetap saja aku emut. Aku
hanya bisa melenguh tidak jelas karena mulutku penuh dengan kon tolnya
yang besar. "Din, kita mulai aja ya. Aku udah gak tahan nih pengen
menikmati lagi no nok kamu", katanya.
Dia menelentangkanku, ikatan
braku dilepasnya dengan sekali tarikan. Dia mengambil posisi ditengah
kangkanganku, kon tolnya yang besar dan keras diarahkannya ke no nokku
yang sudah makin basah. Aku menggeliat2 ketika kurasakan betapa besarnya
kon tol yang menerobos masuk no nokku pelan2. no nokku berkontraksi
kemasukan kon tol gede itu. "Din, no nok kamu peret banget", katanya
sambil terus menekan masuk kon tolnya pelan2. "Abis kon tol bapak besar
sekali. no nok Dina belum pernah kemasukan yang sebesar kon tol bapak,
masukin terus pak, nikmaat banget deh rasanya", jawabku sambil terus
menggeliat. Setengah kon tolnya telah masuk. Dan satu sentakan
berikutnya, seluruh kon tolnya telah ada di dalam no nokku. Aku hanya
memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami
kenikmatan tiada tara. Dia mulai mengenjotkan kon tolnya keluar masuk
dengan pelan, makin lama makin cepat karena enjotannya makin lancar.
Terasa no nokku mengencang meremas kon tolnya yang nikmat banget itu.
Tangannya mulai bergerilya ke arah toketku. Toketku diremas perlahan,
seirama dengan enjotan kon tolnya di no nokku. Aku hanya menoleh ke
kanan dan ke kiri, pinggulku mengikuti goyangan pinggulnya. kon tolnya
terus saja dikeluar masukkan mengisi seluruh relung no nokku. Sambil
mengenjotkan kon tolnya, dia mengemut pentilku yang keras dengan lembut.
Dimainkannya pentil kanan dengan lidahnya, namun seluruh permukaan
bibirnya membentuk huruf O dan melekat di toketku. Ini semua membuat aku
mendesah lepas, tak tertahan lagi. Dia mulai mempercepat enjotannya.
Aku makin sering menegang, dan merintih, "Ah... ah..." Dalam enjotannya
yang begitu cepat dan intens, aku menjambak rambutnya, "Aaahhh pak, Dina
nyampee," lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulutku. Aku udah
nyampe. Tanganku yang menjambak rambutnya itu pun terkulai lemas di
pundaknya.
Dia makin intens mengenjotkan kon tolnya. Bibirku yang
tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun dilumatnya, dan aku
membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil
bergoyang. Tangan kanannya tetap berada ditoketku, meremas-remas, dan
sesekali mempermainkan pentilku. Terasa no nokku mencengkeram kon tol
gedenya. "Uhhh," dia mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras,
kon tolnya menghujam keras ke dalam no nokku, mengiringi muncratnya
pejunya. Tepat saat itu juga aku memeluknya erat sekali, mengejang, dan
menjerit, "Aahhh". Kemudian pelukanku melemas. Aku nyampe untuk kedua
kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ngecretnya pejunya.
Setelah dengusan napas mereda, dia mencabut kon tolnya dari no nokku dan
terkapar disebelahku. "Pak, kon tol bapak lemes aja udah gede, gak
heran kalo ngaceng jadi gede banget. Bener kata temen Dina, makin gede
kon tol yang masuk, makin nikmat rasanya", kataku. "Memangnya kon tol
cowok kamu kecil ya Din", tanyanya. "Ya kecil lah kalo dibandingkan
dengan kon tol bapak, ukurannya extra larga ya pak". "Iya Din, aku
sering ngen tot dengan perempuan lain, tapi dengan kamu yang paling
nikmat. no nok kamu kenceng sekali njepit kon tolku dan empotannya luar
biasa", katanya memuji. Aku cuma tersenyum, "Mo lagi ya pak".Iyalah, aku
sih gak bakalan puas deh ngen totin kamu Din".
Dia langsung mulai
lagi, luar biasa staminanya, kon tolnya dah mulai ngaceng lagi.
tangannya mulai meremas-remas pantatku. Kemudian, dia mengangkat satu
kakiku dan menahannya selagi tangan satunya meraih no nokku. "Ohh..
pak," rintihku. Kurasakan napsuku mulai naik. Jarinya dengan lincah
menggosok-gosok lupak no nokku yang mulai basah. Nafasku juga mulai
cepat dan berat. ia membuka cdku dan membuka lebar-lebar pahaku sehingga
no nokku terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya. Dengan sigap
tangannya kembali meraih no nokku dan meremasnya. Dia menjilati
telingaku ketika tangannya mulai bermain diit ilku. Napsuku sudah tak
tertahankan lagi. Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di
telingaku menambah nafsuku. Dia terus menekan-nekan it ilku dari atas ke
bawah. aku meracau tak karuan. "Ahh.. Shh.. pak" desahku bernafsu.
Jarinya dengan lihai menggosok-gosok dan menekan it ilku dengan
berirama. Rasanya bagaikan melayang dan desahanku berubah menjadi
rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, aku nyampe. "Pak,
nikmat banget, belum dien tot saja sudah nikmat," desahku, tanganku
meremas tangannya yang sedang bermain di it ilku dengan bernafsu. Di
luar perkiraanku, dia maalah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Dia
merentangkan kedua pahaku.
Kurasakan jilatan lidah di bibir no
nokku, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku. Jilatan itu
menjalar ke it ilku, kurasakan gigitan lembut di it ilku yang kian
merangsang napsuku. Aku melenguh keras disertai jeritan-jeritan
kenikmatan yang seakan menyuruh dia untuk terus dan tak berhenti.
Melihat reaksiku, dia terus menggesekan jarinya di liang no nokku yang
sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras
terus-menerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian kurasakan sensasi
yang luar biasa nikmatnya tak lama kemudian. no nokku mengeluarkan
cairan deras bening, aku nyampe untuk kedua kalinya. "Pak, ooh",
lenguhku. Dia meremas toketku dengan sangat keras. Aku melenguh sakit,
kemudian pentilku yang menjadi sasaran berikutnya, dipilin dan
dicubitnya pelan. Napsuku kembali berkobar, no nokku kembali membasah,
"Pak, en totin Dina sekarang, Dina udah napsu banget pak", erangku. kon
tol besarnya sudah ngaceng berat mengangguk2.
Dia menggesekkan
kepala kon tolnya ke bibir no nokku yang sudah basah. Aku merasakan
sensasi lebih daripada jilatan lidahnya di no nokku sebelumnya hingga
kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihan keras kenikmatan.
"Ahh! pak..Ohh.. en totin Dina" racauku. Dengan perlahan ia memasukkan
kepala kon tol ke dalam no nokku, segera dia menyodok-nyodok kon tolnya
dengan kuat dan keras di no nokku. Rasanya nikmat sekali. Dia mendesah
terus-menerus memuji kerapatan dan betapa enaknya no nokku. kon tolnya
yang panjang dan besar terasa menyodok bagian terdalam no nokku hingga
membuatku nyampe lagi. "pak, Dina nyampe pak, aakh nikmatnya", erangku.
Kemudian dia membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan kon tolnya ke dalam no nokku dari belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding no nokku yang masih sensitif. "Oh Din..no nokmu bagaikan sorga, " Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, dia ngecret didalam no nokku. Pejunya terasa dengan kuat menyemprot dinding no nokku. Dia melenguh nikmat dan badannya mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas toketku dan menarik-narik pentilku. Setelah reda, dia berbaring di sebelahku dan menjilati pentilku. Pentilku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas. Tampaknya dia ingin membuatku nyampe lagi. Tangannya kembali menjelajahi no nokku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam no nokku. Dia menekan-nekan dinding no nokku. Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan dia tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali! nikmatnya tak tertahankan. G-Spot ku. Aku tidak bertahan lama dan akhirnya nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Badanku mengejang dan no nokku kembali berlendir. "pak nikmat banget deh malem ini", kataku. Pinter banget dia merangsang aku dan membuat aku nyampe, baik pake kon tolnya maupun pake jarinya. Segera akupun tertidur kelelahan.
Kemudian dia membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan kon tolnya ke dalam no nokku dari belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding no nokku yang masih sensitif. "Oh Din..no nokmu bagaikan sorga, " Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, dia ngecret didalam no nokku. Pejunya terasa dengan kuat menyemprot dinding no nokku. Dia melenguh nikmat dan badannya mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas toketku dan menarik-narik pentilku. Setelah reda, dia berbaring di sebelahku dan menjilati pentilku. Pentilku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas. Tampaknya dia ingin membuatku nyampe lagi. Tangannya kembali menjelajahi no nokku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam no nokku. Dia menekan-nekan dinding no nokku. Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan dia tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali! nikmatnya tak tertahankan. G-Spot ku. Aku tidak bertahan lama dan akhirnya nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Badanku mengejang dan no nokku kembali berlendir. "pak nikmat banget deh malem ini", kataku. Pinter banget dia merangsang aku dan membuat aku nyampe, baik pake kon tolnya maupun pake jarinya. Segera akupun tertidur kelelahan.
Ketika aku terbangun hari udah siang, dia masih saja
mendengkur disampingku. Aku bangun ke kekamar mandi untuk kencing, cuci
muka dan sikat gigi. Ketika kembali ke ranjang dia masih saja
mendengkur. Aku ngintip dibalik korden kamar, matahari udah tinggi juga.
Aku melihat jam tanganku, udah jam 8 lewat. Korden kusibakkan, dia
terpakun karena silau, matanya dipicingkan untuk mengurangi silaunya
sinar yang masuk kamar. Kulihat kon tolnya sudah tegak lagi seperti
tiang bendera. Dia ke kamar mandi, terdengar kloset berbunyi, rupanya
dia kencing. gak lama lagi terdengar dia menyikat gigi. Ketika dia
kembali ke kamar, aku udah berbaring di ranjang lagi menantikan serangan
pagi. Aku melihat kon tol besarnya masih aja ngaceng dengan kerasnya
walaupun dia udah kencing. Dia duduk disampingku dan mencium bibirku.
"Pagi Din, kita main lagi yo", ajaknya. Kembali dia menciumku, aku
menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah
dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah
kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya mulai
main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah
di pangkal pahaku. no nokku digelitik-gelitik. Aku menggelepar
merasakan jari-jarinya yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya.
"Hmmhhh...enak, pak." jeritku. jari-jarinya tambah nakal, menusuk lupak
no nokku yang sudah berlendir dan mengocoknya. Aku tambah
menjerit-jerit. "pak...hhh...masukkin kon tol bapak, Dina udah nggak
tahan..hhhh...hhh..."
Dia segera memposisikan diatasku yang sudah
telentang mengangkang. kon tolnya ditancapkan ke no nokku, aku melenguh
keenakan, "pak, kon tol bapak nikmat banget deh". kon tolnya didorongnya
lagi sampai mentok. "pak..oohhh..nikmatnya" jeritku. kon tolnya dikocok
keluar masuk no nokku. Aku mulai mengejang-ngejang lagi dan bibirku tak
henti-henti menyuarakan kenikmatan. Kurang lebih dua puluh menitan
akhirnya dia ngecret. Ugh, rasanya enak bener...! Pejunya berhamburan
keluar, bermuncratan dan menembak-nembak didalam no nokku. Aku sendiri
sudah beberapa kali nyampe sampe no nokku mengejang-ngejang keenakan.
Lendir dari no nokku membanjir...meleber di paha, betis dan pantatku.
Aku menggeletak lemas. Aku dan dia sama-sama mandi keringat. Nafasnya
terengah-engah tak beraturan. Dalam nada tersengal-sengal sekarang aku
yang minta lagi, "Dina masih kepengen sekali lagi...". dia merebahkan
badannya di sampingku. Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya. Dia
menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan
saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia
menggoyang-goyang pinggulnya sampai kon tolnya yang telah ngaceng lagi
terasa kena di no nokku. Bosen ciuman, bibir dan lidahnya menjalar ke
kuping leher bahu, ketiak, terus ketoketku. Dia gemes banget ngeliat
pentilku yang kecoklat-coklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat
pentilku dengan rakus sampai Aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan
digigitnya dengan lembut, lidah nya menggelitik pentilku di sela-sela
gigi depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku
menggelinjang karena geli dan nikmat. Setelah beberapa saat di
permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir no nokku
mengalir dan terasa basah di perutku. "pak, gantian Dina yang ngemut
kon tol bapak ya", kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku
mulai beraksi. Kupegang kon tolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok
batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, "Enak Din, terus.." Lidahku
mulai merambat ke kepala kon tolnya, kujilati cairan yang mulai muncul
di lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi
tiap jenjang kon tolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus biji pelernya.
"Din..." gumamnya pelan. "Enak banget, geli-geli nikmat". Aku hanya
tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu. Terus aku membuka mulutku
dan menjejalkan kon tolnya masuk ke dalam mulutku. kon tolnya kuisep
kenceng-kenceng, lalu dengan mulut kukocok kon tolnya turun naik turun
naik ...uuuuggggghhhh...sedap enak...mmmmhhhh...", erangnya. Aku lalu
merubah posisiku untuk melakukan 69. Aku di atasnya dan menyorongkan
pantatku ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia
menjilati no nokku yang berlendir dan merekah merah itu. Bibirnya
menyedot lubang no nokku, menghisap lendirnya. Lidahnya dimasukin ke
dalam lubang no nokku, menjilati dinding-dinding basah, sementara
jarinya mempermainkan it ilku. Aku mengerang-ngerang dengan kon tolnya
di mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari no nokku membajir
membasahi mukanya. Aku melepaskan kon tolnya dari mulutku dan meminta
dia menyodok aku dari belakang.
Waktu kon tolnya masuk, aku hanya
merintih pelan. kontolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku
hanya bisa mengejang-ngejang menahan nikmat. Tangannya ikut nimbrung
merangsang it ilku. Kocokan kon tol di no nokku dan kilikan jarinya di
it ilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua
kali no nokku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok
kon tolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan no nokku membecek,
meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kali di ronde ke
dua itu, dia akhirnya ngecret lagi. "pak, nikmat banget pagi ini, lebih
nikmat dari semalem, aku sampe berkali2 nyampe baru bapak ngecret",
lenguhku lemes. Dia mencabut kon tolnya dari no nokku. Kemudian dia
menyiapkan sarapan untuk kami berdua, setelah itu kami mandi, dan aku
dianternya pulang. "Terima kasih untuk malam yang indah bersamamu.
Kapan2 kita bisa mengulangi kenikmatan ini". Dia menciumku, lama sekali.
Sumber
Sumber