Sejak Bapak meninggal tujuh tahun
lalu dan Ibu meninggal enam tahun yang lalu, aku tinggal bersama kakak
sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami
bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan aku, Mila. Rumah waris itu hanya laku
Rp. 6,5 juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Masing-masing
kebagian Rp. 2 juta, sisa Rp.500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki
makam kedua orang tua dan biaya keselamatan.
Ketika menerima uang waris Rp. 2
juta, aku sengaja menyimpan Rp. 1 juta sebagai deposito ke sebuah bank,
sedangkan sisanya kubelikan sebuah TV. Sebab aku ingin punya TV sendiri dikamar
tidurku.Sejak Bapak meninggal tujuh tahun lalu dan Ibu meninggal enam tahun
yang lalu, aku tinggal bersama kakak sulungku, Mbak Mira. Rumah orang tuaku di
Madiun terpaksa dijual. Uangnya kami bagi bertiga, Mbak Mira, Mbak Mona, dan
aku, Mila.
Rumah waris itu hanya laku Rp. 6,5
juta. Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Masing-masing kebagian
Rp. 2 juta, sisa Rp.500 ribu dimasukkan ke bank untuk memperbaiki makam kedua
orang tua dan biaya keselamatan.
Ketika menerima uang waris Rp. 2
juta, aku sengaja menyimpan Rp. 1 juta sebagai deposito ke sebuah bank,
sedangkan sisanya kubelikan sebuah TV. Sebab aku ingin punya TV sendiri dikamar
tidurku.
Begitu lulus, aku pergi berduaan
ke Sarangan bersama Anton, pacarku yang sekelas denganku. Ditempat rekreasi
yang sejuk itulah aku memadu kasih dengan Anton. Entah bagaimana mulanya,
setelah aku dicium dan diremas-remas payudaraku, aku seperti terhipnotis dan
terbuai dengan segala rayuannya, sehingga aku menuruti saja ketika Anton
mengajakku memasuki kamar hotel di Sarangan, aku tidak menolaknya.
Bahkan ketika di dalam kamar
tidur, Anton mulai kembali dengan cumbuannya dan remasan-remasan hangatnya yang
benar-benar membuatku tak berdaya dan diam saja saat Anton mulai melepas satu
demi satu seluruh pakaian yang menempel ditubuhku, aku hanya bisa merasakan
desah nafasku yang semakin tidak beraturan dan seluruh tubuhku benar-benar di
luar kendaliku. Saat tangan Anton semakin bergerak leluasa ke bagian-bagian
sensitif tubuhku, aku semakin pasrah dan menikmati seluruh kecupan hangat,
remasan-remasan yang luar biasa nikmatnya, hingga akhirnya seluruh pertahananku
jebol setelah penis Anton dengan cepatnya masuk dan merenggut keperawananku
dengan sekali hentakan saja.
Namun semuanya tak kupikirkan
terlalu lama karena aku benar-benar sangat menikmatinya saat penis Anton mulai
bergerak maju-mundur, turun-naik, sehingga membuat liang vaginaku mengeluarkan
cairan kenikmatan yang terasa hangat saat tubuhku terhempas ke ranjang karena
puncak orgasme yang kurasakan saat itu. Lemas, mataku berat, dan akhirnya aku
tertidur di dalam pelukan dada Anton kekasihku itu.
Noktah merah yang seharusnya
kupersembahkan buat suamiku, akhirnya keberikan lebih awal kepada Anton,
pacarku sekaligus calon suamiku kelak. Aku ingat persis Anton kembali melakukan
persetubuhan denganku hingga lebih dari tiga kali pada hari itu, aku
benar-benar dibuat takluk dengan keperkasaan seksualnya.
"Tak udah memikirkan
keperawanan. Jaman sudah maju, manusia tidak membutuhkan keperawanan, melainkan
kesetiaan", kata Anton setelah berhasil mengambil keperawananku. Aku juga
masih ingat persis ketika Anton memberiku uang Rp.10 ribu. "Ini untuk beli
jamu", katanya singkat. Hampir saja aku melempar uang itu ke wajahnya.
Tetapi Anton keburu mencium pipiku, keningku dan tengkukku sehingga aku tidak
bisa marah atas sikapnya tadi.
Benar dugaanku. Setelah peristiwa
itu Anton tidak muncul-muncul. Hampir dua minggu aku menunggu, tak kelihatan
juga batang hidungnya. Akhirnya aku memaksakan untuk datang ke rumahnya di
jalan Borobudur. Betapa terkejutnya aku, ketika ibunya bilang Anton sudah
berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana. Niat hati ingin menyampaikan
masalah ini kepada ibunya bahwa aku dan Anton telah berbuat hal layaknya suami
istri. Tetapi mulutku tidak bisa bersuara. Aku hanya menahan nafas dan
mengehembuskannya dalam-dalam.
Saat paling membuatku
berdebar-debar adalah saat aku tidak mengalami menstruasi. Aku kalut, Beberapa
macam pil yang disebut orang-orang bisa untuk menggugurkan kandungan, kuminum.
Tetapi, aku tetap terlambat datang bulan. Aku makin kalut. Apalagi aku harus
hengkang dari rumah, karena rumah kami sudah laku dijual. Aku harus ke
Surabaya, tidak ada jalan lain.
Bulan kedua aku lewati dengan
mengurung diri di kamar di ruman Mbak Mira, kakak sulungku. D rumah ini tinggal
juga suaminya, Mas Sancaka, dan anak tunggalnya Sarma, yang masih balita.
Selain itu pula ada pula Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, yang hingga kini masih
hidup membujang.
Sebulan dirumah Mbak Mira, aku
sudah tidak bisa menyembunyikan diri lagi. Ketika Mbak Mira tidur aku
mengutarakan permasalahanku ini kepada Mas Sancaka, dan berharap dia bisa
memeberikan jalan keluar terbaik bagi diriku. "Besok kamu ikut aku. Kita
harus menggugurkan anak haram itu", kata Mas Sancaka, "Dan Mbak Mira
tidak perlu tahu musibah ini", tambahnya. "Kamu masih punya uang
simpanan?", katanya. "Satu juta", jawabku singkat. "Besok
pagi kita ambil, kekurangan uangnya biar aku yang tanggung", kata Mas
Sancaka.
Keesokan pagi harinya aku dibawa
ke dokter yang ada dikawasan lokalisasi di Surabaya. Di tempat yang tidak
terlalu luas itu, kandunganku digugurkan. "Biayanya Rp. 1,6 juta, itu
belum termasuk biaya kamar, biaya perawatan, dan obat-obatan. Siapkan saja uang
sekitar Rp. 2 juta", kata dokter yang merawatku kepada Mas Sancaka.
Aku memandangi Mas Sancaka untuk
meminta reaksi atas ucapannya tadi malam. "Ya, Dok. Ini kami membawa uang
Rp. 1 juta, nanti saya akan ambil uang di ATM untuk melengkapi seluruh biayanya",
kata Mas Sancaka kepada dokter yang akan menggugurkan kandunganku, sembari
melirikku. Lega rasanya aku dibantu kakak iparku. Dibenakku aku punya harapan
untuk kuliah kembali, agar jadi 'orang'. Uang Rp. 1 juta kuserahkan, dan dalam
waktu sepuluh menit aku sudah tidak sadarkan diri.
Ketika aku bangun, aku telah
berada di ruangan yang sama sekali tidak aku kenal. Ada seorang perawat disini.
"Jangan banyak bergerak dahulu ya jeng", kata perawat itu yang
kira-kira berusia 40 tahun. dia kemudian menyeka keringatku dan meneyelimuti
tubuhku dengan baju putih.
Tak lama kemudian Mas Sancaka
datang dan membawa buah-buahan untukku. Aku tersenyum kepadanya. Diapun
membalas senyumku. Diusapnya rambutku, dan diciumnya keningku. "Sus, meski
kami menggugurkan kandungannya, tetapi kami ingin tetap menikah. Kami hanya
merasa belum siap saja. Saya ingin Mila menjadi istri kedua", kata Mas
Sancaka kepada perawat itu, tanpa meminta persetujuanku kalau aku pura-pura
jadi WIL-nya.
Sehari kemudian aku pulang. Tetapi
aku tidak diijinkan untuk pulang ke rumah Mbak Mira oleh Mas Sancaka, Aku
justru dibawanya kesebuah hotel. "Kenapa disini, Mas?" tanyaku.
"Kamu masih kelihatan pucat. Jangan pulang dulu, kamu tidur disini sekitar
3 sampai 4 hari dulu, nanti baru pulang. Lagian Mas Sancaka sudah bilang ke
Mbak Mira, bahwa kamu balik sementara ke Bandung untuk keperluan menjenguk
saudara", katanya. Aku mengikuti saja sarannya tersebut.
Hari-hari pertama Mas Sancaka
bersikap sopan kepadaku, Dia tampak mengasihiku. Tetapi, pada hari kedua, Mas
Sancaka mulai berubah, setelah berbaringan di sebelah tubuhku, Mas Sancaka
secara mengejutkan memintaku untuk memegang 'senjatanya'. "Aku nggak kuat,
Mila. Tolong kamu pegang-pegang penisku sampai 'keluar', agar kepalaku tidak
pusing. Mbakyumu sedang mestruasi. Jadi aku tidak melakukan hubungan badan
selama dua hari ini, biasanya kami melakukannya setiap hari", begitu kata
Mas Sancaka beralasan kepadaku.
Ingin rasanya aku menolak, tetapi
bagaimana lagi? Mas Sancaka telah begitu berbaik hati kepadaku. Kupikir tidak
ada salahnya aku melakukannya sekali ini untuk membalas kebaikan-kebaikan Mas
Sancaku kepadaku selama ini, khususnya saat-saat seperti ini. Dengan malu-malu
aku melakukan apa yang dimintanya, Kulihat penis Mas Sancaka masih tertidur,
panjangnya lumayanlah, aku mulai mengusap-usap batang penis Mas Sancaka secara
lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai melihat reaksinya, Penis Mas Sancaka
sedikit demi sedikit mulai mengembang dan membesar, tanganku merasakan penisnya
yang bergerak-gerak hingga akhirnya tidak bisa bergerak lagi, karena seluruh
batang penisnya telah tegang dengan sangat kerasnya.
Mas Sancaka kulihat memejamkan
matanya menikmati permainan ini, aku semakin berani untuk memain-mainkan
penisnya, kuusap, kugosok-gosok dengan jariku dan terakhir aku mulai
mengocok-ngocok penis Mas Sancaka secara turun naik, kulihat tubuh Mas Sancaka
kadang-kadang menggeliat merasakan kenikamatan ini, sampai akhirnya tiba-tiba
tubuh Mas Sancaka tiba-tiba mengejang, penisnya terasa panas sekali, kulihat kepala
penisnya kini berubah warnanya menjadi sangat merah sekali dan
berdenyut-denyut.
Tiba-tiba Mas Sancaka memejamkan
matanya sangat erat, bibirnya seperti menggigit menahan sesuatu yang amat luar
biasa, tidak lebih dalam hitungan dua detik, tiba-tiba aku melihat cairan
kental menyemprot deras keluar dari batang penisnya Mas Sancaka, cairan
spermanya muncrat banyak sekali seiring dengan itu tubuhnya berkelejat-kelejat
sampai pada akhirnya spermanya habis, tubuhnya jatuh lunglai dan kulihat wajah
Mas Sancaka tersenyum puas. Perlahan-lahan aku membersihkan tubuh Mas Sancaka
yang belepotan spermanya, kubersihkan dengan perlahan-lahan sambil
memijat-mijat tubuh Mas Sancaka, hingga akhirnya Mas Sancaka tertidur di
ranjangku.
Di hari kedua aku benar-benar tidak
mampu menolak permintaannya, saat aku sedang mandi tiba-tiba pintu kamar
mandiku diketok oleh Mas Sancaka, ketika kubukakan, tiba-tiba Mas Sancaka
menerkamku dengan buasnya. "Kalau kamu tidak melayaniku, maka kasus
pengguguran ini akan kuberitahukan kepada Mbak Mira", ancamnya. Maka, aku
tidak mampu menolak keinginannya ini, Semalaman itu aku harus melayani Mas
Sancaka ronde demi ronde.
Sejak saat itu aku semakin tidak
punya keberanian untuk menolak keinginan Mas Sancaka untuk mencicipi kehangatan
tubuhku yang masih sintal, dan rapatnya liang vaginaku, karena aku memang belum
pernah melahirkan. Perbuatannya ini tidak hanya dilakukan di hotel saja, tetapi
sudah mulai berani dilakukan di rumah Mbak Mira, Hampir Setiap tengah malam
menjelang pukul 3 pagi, Mas Sancaka selalu mengendap-endap menuju kamarku dan
mengetuk kamar tidurku untuk meminta jatahnya, karena aku takut suatu waktu
akan ketahuan akibat Mas Sancaka mengetuk pintuku maka aku setiap tidur tidak
pernah mengunci kamar tidurku.
Yang membuatku semakin tertekan
adalah tiba-tiba pada suatu hari tubuhku serasa terindih sesuatu, ketika aku
membuka mataku alangkah kagetnya aku, karena yang menindih tubuhku adalah Mas
Sudrajat, adik Mas Sancaka, aku ingin berteriak, tetapi Mas Sudrajat menutup
mulutku sambil mengancamku. "Awas, kamu tidak perlu berteriak, Jika tidak
saya akan melaporkan perselingkuhan kamu dengan Mas Sancaka kepada Mbak Mira.
Aku telah mengetahui kejadian ini sejak minggu lalu, lalu apa salahnya jika
kamu melakukannya kepadaku juga", ancamnya. Sejak saat itu aku menilai Mas
Sudrajat sama bejatnya dengan Mas Sancaka. Hingga mulai saat itu hampir setiap
hari aku melayani dua pria. Antara pukul 12 malam sampai denga pukul 1.30 pagi
aku melayani Mas Sudrajat, dan Antara pukul 3 pagi sampai dengan pukup 4 pagi
aku harus kembali bergumul dengan Mas Sancaka. Tubuhku benar-benar sebagai
pelampiasan nafsu kedua saudara-saudara iparku.
Bahkan menurutku Mas Sudrajat
adalah orang paling bejat didunia ini, ia bahkan menceritakan perselingkuhan
kami kepada Mas Suwono yang tinggal di jakarta. Ketika suatu saat Mas Suwono
menginap di rumah Mbak Mira berkaitan dengan tugas kantornya. Dia tidak tidak
sungkan-sungkan masuk kekamar tidurku malam hari bersama dengan Mas Sudrajat
untuk kembali merasakan kehangatan tubuhku, malah pernah suatu kali ketiganya
tiba-tiba berkumpul di kamarku dan benar-benar menguras seluruh tenagaku,
hingga aku pernah pingsan menahan kenikmatan yang datang bertubi-tubi tanpa
hentinya dari ketiga saudara iparku yang menggilir aku secara bergantian.
Hingga akhirnya puncak dari seluruh kenikmatan tersebut adalah kelelahan yang
luar biasa, aku knock out alias KO!
Lebih celaka lagi ketika suatu
saat Mbak Mira pada siang hari datang ke kamarku dan menemukan celana dalam
suaminya ada di kamarku. Aku sangat yakin Mbak Mira mengetahui kalu suaminya
sering masuk ke kamarku. Mbak Mira hanya diam saja. Dia hanya melemparkan
celana dalam suaminya itu kewajahku. Dan, sejak itulah Mbak Mira jarang
mengajakku bicara. Ketika kuceritakan kejadian ini kepada Mas Sancaka, Diluar
dugaan di berkata, "Mila, Mbak Mira sudah tidak kuat lagi melayani
nafsuku, pernah kusampaikan aku punya pacar seorang janda muda, dia diam-diam
saja", kata Mas Sancaka.
Aku tercenung. Napasku terasa
berhenti di tenggorokan. Kasihan Mbak Mira. Tetapi siapa yang menaruh rasa
belas kasihan kepadaku? Aku telah melayani nafsu biadab ketiga saudara iparku.
Ingin rasanya aku lari minggat dari rumah Mbak Mira, Tetapi kemana aku harus
menetap? aku tidak ingin menjadi seorang Wanita Tuna Susila, dan aku sudah
tidak memiliki uang pula untuk menyambung hidup jika aku minggat. Sampai
akhirnya sedikit demi sedikit keberanianku benar-benar hilang sama-sekali, dan
hingga sampai ini aku masih harus tetap melayani nafsu binatang ketiga lelaki
iparku.
Begitu lulus, aku pergi berduaan
ke Sarangan bersama Anton, pacarku yang sekelas denganku. Ditempat rekreasi
yang sejuk itulah aku memadu kasih dengan Anton. Entah bagaimana mulanya,
setelah aku dicium dan diremas-remas payudaraku, aku seperti terhipnotis dan
terbuai dengan segala rayuannya, sehingga aku menuruti saja ketika Anton
mengajakku memasuki kamar hotel di Sarangan, aku tidak menolaknya.
Bahkan ketika di dalam kamar
tidur, Anton mulai kembali dengan cumbuannya dan remasan-remasan hangatnya yang
benar-benar membuatku tak berdaya dan diam saja saat Anton mulai melepas satu
demi satu seluruh pakaian yang menempel ditubuhku, aku hanya bisa merasakan
desah nafasku yang semakin tidak beraturan dan seluruh tubuhku benar-benar di
luar kendaliku.
Saat tangan Anton semakin bergerak
leluasa ke bagian-bagian sensitif tubuhku, aku semakin pasrah dan menikmati
seluruh kecupan hangat, remasan-remasan yang luar biasa nikmatnya, hingga
akhirnya seluruh pertahananku jebol setelah penis Anton dengan cepatnya masuk dan
merenggut keperawananku dengan sekali hentakan saja. Namun semuanya tak
kupikirkan terlalu lama karena aku benar-benar sangat menikmatinya saat penis
Anton mulai bergerak maju-mundur, turun-naik, sehingga membuat liang vaginaku
mengeluarkan cairan kenikmatan yang terasa hangat saat tubuhku terhempas ke
ranjang karena puncak orgasme yang kurasakan saat itu. Lemas, mataku berat, dan
akhirnya aku tertidur di dalam pelukan dada Anton kekasihku itu.
Noktah merah yang seharusnya
kupersembahkan buat suamiku, akhirnya keberikan lebih awal kepada Anton,
pacarku sekaligus calon suamiku kelak. Aku ingat persis Anton kembali melakukan
persetubuhan denganku hingga lebih dari tiga kali pada hari itu, aku
benar-benar dibuat takluk dengan keperkasaan seksualnya.
"Tak udah memikirkan
keperawanan. Jaman sudah maju, manusia tidak membutuhkan keperawanan, melainkan
kesetiaan", kata Anton setelah berhasil mengambil keperawananku. Aku juga
masih ingat persis ketika Anton memberiku uang Rp.10 ribu. "Ini untuk beli
jamu", katanya singkat. Hampir saja aku melempar uang itu ke wajahnya.
Tetapi Anton keburu mencium pipiku, keningku dan tengkukku sehingga aku tidak
bisa marah atas sikapnya tadi.
Benar dugaanku. Setelah peristiwa
itu Anton tidak muncul-muncul. Hampir dua minggu aku menunggu, tak kelihatan
juga batang hidungnya. Akhirnya aku memaksakan untuk datang ke rumahnya di
jalan Borobudur. Betapa terkejutnya aku, ketika ibunya bilang Anton sudah
berangkat ke Jakarta, untuk mengadu nasib di sana. Niat hati ingin menyampaikan
masalah ini kepada ibunya bahwa aku dan Anton telah berbuat hal layaknya suami
istri. Tetapi mulutku tidak bisa bersuara. Aku hanya menahan nafas dan
mengehembuskannya dalam-dalam.
Saat paling membuatku
berdebar-debar adalah saat aku tidak mengalami menstruasi. Aku kalut, Beberapa
macam pil yang disebut orang-orang bisa untuk menggugurkan kandungan, kuminum.
Tetapi, aku tetap terlambat datang bulan. Aku makin kalut. Apalagi aku harus
hengkang dari rumah, karena rumah kami sudah laku dijual. Aku harus ke Surabaya,
tidak ada jalan lain.
Bulan kedua aku lewati dengan
mengurung diri di kamar di ruman Mbak Mira, kakak sulungku. D rumah ini tinggal
juga suaminya, Mas Sancaka, dan anak tunggalnya Sarma, yang masih balita.
Selain itu pula ada pula Mas Sudrajat, adik Mas Sancaka, yang hingga kini masih
hidup membujang.
Sebulan dirumah Mbak Mira, aku
sudah tidak bisa menyembunyikan diri lagi. Ketika Mbak Mira tidur aku
mengutarakan permasalahanku ini kepada Mas Sancaka, dan berharap dia bisa
memeberikan jalan keluar terbaik bagi diriku. "Besok kamu ikut aku. Kita
harus menggugurkan anak haram itu", kata Mas Sancaka, "Dan Mbak Mira
tidak perlu tahu musibah ini", tambahnya. "Kamu masih punya uang
simpanan?", katanya. "Satu juta", jawabku singkat. "Besok
pagi kita ambil, kekurangan uangnya biar aku yang tanggung", kata Mas
Sancaka.
Keesokan pagi harinya aku dibawa
ke dokter yang ada dikawasan lokalisasi di Surabaya. Di tempat yang tidak
terlalu luas itu, kandunganku digugurkan. "Biayanya Rp. 1,6 juta, itu
belum termasuk biaya kamar, biaya perawatan, dan obat-obatan. Siapkan saja uang
sekitar Rp. 2 juta", kata dokter yang merawatku kepada Mas Sancaka.
Aku memandangi Mas Sancaka untuk
meminta reaksi atas ucapannya tadi malam. "Ya, Dok. Ini kami membawa uang
Rp. 1 juta, nanti saya akan ambil uang di ATM untuk melengkapi seluruh
biayanya", kata Mas Sancaka kepada dokter yang akan menggugurkan
kandunganku, sembari melirikku.
Lega rasanya aku dibantu kakak
iparku. Dibenakku aku punya harapan untuk kuliah kembali, agar jadi 'orang'.
Uang Rp. 1 juta kuserahkan, dan dalam waktu sepuluh menit aku sudah tidak
sadarkan diri. Ketika aku bangun, aku telah berada di ruangan yang sama sekali
tidak aku kenal. Ada seorang perawat disini. "Jangan banyak bergerak
dahulu ya jeng", kata perawat itu yang kira-kira berusia 40 tahun. dia
kemudian menyeka keringatku dan meneyelimuti tubuhku dengan baju putih.
Tak lama kemudian Mas Sancaka
datang dan membawa buah-buahan untukku. Aku tersenyum kepadanya. Diapun
membalas senyumku. Diusapnya rambutku, dan diciumnya keningku. "Sus, meski
kami menggugurkan kandungannya, tetapi kami ingin tetap menikah. Kami hanya
merasa belum siap saja. Saya ingin Mila menjadi istri kedua", kata Mas
Sancaka kepada perawat itu, tanpa meminta persetujuanku kalau aku pura-pura
jadi WIL-nya. Sehari kemudian aku pulang. Tetapi aku tidak diijinkan untuk
pulang ke rumah Mbak Mira oleh Mas Sancaka, Aku justru dibawanya kesebuah
hotel. "Kenapa disini, Mas?" tanyaku.
"Kamu masih kelihatan pucat.
Jangan pulang dulu, kamu tidur disini sekitar 3 sampai 4 hari dulu, nanti baru
pulang. Lagian Mas Sancaka sudah bilang ke Mbak Mira, bahwa kamu balik
sementara ke Bandung untuk keperluan menjenguk saudara", katanya. Aku
mengikuti saja sarannya tersebut.
Hari-hari pertama Mas Sancaka
bersikap sopan kepadaku, Dia tampak mengasihiku. Tetapi, pada hari kedua, Mas
Sancaka mulai berubah, setelah berbaringan di sebelah tubuhku, Mas Sancaka
secara mengejutkan memintaku untuk memegang 'senjatanya'. "Aku nggak kuat,
Mila. Tolong kamu pegang-pegang penisku sampai 'keluar', agar kepalaku tidak
pusing. Mbakyumu sedang mestruasi. Jadi aku tidak melakukan hubungan badan
selama dua hari ini, biasanya kami melakukannya setiap hari", begitu kata
Mas Sancaka beralasan kepadaku.
Ingin rasanya aku menolak, tetapi
bagaimana lagi? Mas Sancaka telah begitu berbaik hati kepadaku. Kupikir tidak
ada salahnya aku melakukannya sekali ini untuk membalas kebaikan-kebaikan Mas
Sancaku kepadaku selama ini, khususnya saat-saat seperti ini. Dengan malu-malu
aku melakukan apa yang dimintanya, Kulihat penis Mas Sancaka masih tertidur,
panjangnya lumayanlah, aku mulai mengusap-usap batang penis Mas Sancaka secara
lembut. Sedikit demi sedikit aku mulai melihat reaksinya, Penis Mas Sancaka
sedikit demi sedikit mulai mengembang dan membesar, tanganku merasakan penisnya
yang bergerak-gerak hingga akhirnya tidak bisa bergerak lagi, karena seluruh
batang penisnya telah tegang dengan sangat kerasnya.
Mas Sancaka kulihat memejamkan
matanya menikmati permainan ini, aku semakin berani untuk memain-mainkan
penisnya, kuusap, kugosok-gosok dengan jariku dan terakhir aku mulai
mengocok-ngocok penis Mas Sancaka secara turun naik, kulihat tubuh Mas Sancaka
kadang-kadang menggeliat merasakan kenikamatan ini, sampai akhirnya tiba-tiba
tubuh Mas Sancaka tiba-tiba mengejang, penisnya terasa panas sekali, kulihat
kepala penisnya kini berubah warnanya menjadi sangat merah sekali dan
berdenyut-denyut.
Tiba-tiba Mas Sancaka memejamkan
matanya sangat erat, bibirnya seperti menggigit menahan sesuatu yang amat luar
biasa, tidak lebih dalam hitungan dua detik, tiba-tiba aku melihat cairan
kental menyemprot deras keluar dari batang penisnya Mas Sancaka, cairan
spermanya muncrat banyak sekali seiring dengan itu tubuhnya berkelejat-kelejat
sampai pada akhirnya spermanya habis, tubuhnya jatuh lunglai dan kulihat wajah
Mas Sancaka tersenyum puas. Perlahan-lahan aku membersihkan tubuh Mas Sancaka
yang belepotan spermanya, kubersihkan dengan perlahan-lahan sambil
memijat-mijat tubuh Mas Sancaka, hingga akhirnya Mas Sancaka tertidur di
ranjangku.
Di hari kedua aku benar-benar
tidak mampu menolak permintaannya, saat aku sedang mandi tiba-tiba pintu kamar
mandiku diketok oleh Mas Sancaka, ketika kubukakan, tiba-tiba Mas Sancaka
menerkamku dengan buasnya. "Kalau kamu tidak melayaniku, maka kasus
pengguguran ini akan kuberitahukan kepada Mbak Mira", ancamnya. Maka, aku
tidak mampu menolak keinginannya ini, Semalaman itu aku harus melayani Mas
Sancaka ronde demi ronde.
Sejak saat itu aku semakin tidak
punya keberanian untuk menolak keinginan Mas Sancaka untuk mencicipi kehangatan
tubuhku yang masih sintal, dan rapatnya liang vaginaku, karena aku memang belum
pernah melahirkan. Perbuatannya ini tidak hanya dilakukan di hotel saja, tetapi
sudah mulai berani dilakukan di rumah Mbak Mira, Hampir Setiap tengah malam
menjelang pukul 3 pagi, Mas Sancaka selalu mengendap-endap menuju kamarku dan
mengetuk kamar tidurku untuk meminta jatahnya, karena aku takut suatu waktu
akan ketahuan akibat Mas Sancaka mengetuk pintuku maka aku setiap tidur tidak
pernah mengunci kamar tidurku.
Yang membuatku semakin tertekan
adalah tiba-tiba pada suatu hari tubuhku serasa terindih sesuatu, ketika aku
membuka mataku alangkah kagetnya aku, karena yang menindih tubuhku adalah Mas
Sudrajat, adik Mas Sancaka, aku ingin berteriak, tetapi Mas Sudrajat menutup
mulutku sambil mengancamku. "Awas, kamu tidak perlu berteriak, Jika tidak
saya akan melaporkan perselingkuhan kamu dengan Mas Sancaka kepada Mbak Mira.
Aku telah mengetahui kejadian ini
sejak minggu lalu, lalu apa salahnya jika kamu melakukannya kepadaku
juga", ancamnya. Sejak saat itu aku menilai Mas Sudrajat sama bejatnya
dengan Mas Sancaka. Hingga mulai saat itu hampir setiap hari aku melayani dua
pria. Antara pukul 12 malam sampai denga pukul 1.30 pagi aku melayani Mas
Sudrajat, dan Antara pukul 3 pagi sampai dengan pukup 4 pagi aku harus kembali
bergumul dengan Mas Sancaka. Tubuhku benar-benar sebagai pelampiasan nafsu
kedua saudara-saudara iparku.
Bahkan menurutku Mas Sudrajat
adalah orang paling bejat didunia ini, ia bahkan menceritakan perselingkuhan
kami kepada Mas Suwono yang tinggal di jakarta. Ketika suatu saat Mas Suwono
menginap di rumah Mbak Mira berkaitan dengan tugas kantornya. Dia tidak tidak
sungkan-sungkan masuk kekamar tidurku malam hari bersama dengan Mas Sudrajat
untuk kembali merasakan kehangatan tubuhku, malah pernah suatu kali ketiganya
tiba-tiba berkumpul di kamarku dan benar-benar menguras seluruh tenagaku,
hingga aku pernah pingsan menahan kenikmatan yang datang bertubi-tubi tanpa
hentinya dari ketiga saudara iparku yang menggilir aku secara bergantian.
Hingga akhirnya puncak dari seluruh kenikmatan tersebut adalah kelelahan yang
luar biasa, aku knock out alias KO!
Lebih celaka lagi ketika suatu
saat Mbak Mira pada siang hari datang ke kamarku dan menemukan celana dalam
suaminya ada di kamarku. Aku sangat yakin Mbak Mira mengetahui kalu suaminya
sering masuk ke kamarku. Mbak Mira hanya diam saja. Dia hanya melemparkan
celana dalam suaminya itu kewajahku. Dan, sejak itulah Mbak Mira jarang
mengajakku bicara. Ketika kuceritakan kejadian ini kepada Mas Sancaka, Diluar
dugaan di berkata, "Mila, Mbak Mira sudah tidak kuat lagi melayani
nafsuku, pernah kusampaikan aku punya pacar seorang janda muda, dia diam-diam
saja", kata Mas Sancaka.
Aku tercenung. Napasku terasa
berhenti di tenggorokan. Kasihan Mbak Mira. Tetapi siapa yang menaruh rasa
belas kasihan kepadaku? Aku telah melayani nafsu biadab ketiga saudara iparku.
Ingin rasanya aku lari minggat dari rumah Mbak Mira, Tetapi kemana aku harus
menetap? aku tidak ingin menjadi seorang Wanita Tuna Susila, dan aku sudah
tidak memiliki uang pula untuk menyambung hidup jika aku minggat. Sampai
akhirnya sedikit demi sedikit keberanianku benar-benar hilang sama-sekali, dan
hingga sampai ini aku masih harus tetap melayani nafsu binatang ketiga lelaki
iparku.