Aku dan cici-ku sama-sama sekolah
di SMU swasta di Surabaya. Aku di kelas satu, umurku 16 tahun. Sementara
cici-ku kelas tiga, umurnya 18 tahun. Terus terang, cici-ku orangnya cakep.
Kulitnya juga putih.
Tingginya 161 cm, beratnya 48 kg.
Rambutnya sebahu dicat kecoklatan. Tubuhnya telah tumbuh jadi sexy. Dadanya
nampak menonjol. Gara-gara penasaran, pernah kulihat bra miliknya. Ia mempunyai
bra dengan berbagai macam model dan berbagai warna. Mereknya kebanyakan
Triumph dan ukurannya 34C. Ia pertama
kali memakai bra waktu kelas 2 SMP.Pada suatu siang sepulang sekolah, aku dan
cici-ku lagi jalan-jalan di mal. Saat itu kami berdua masih memakai seragam.
Waktu itu kita sedang antri beli minuman. Saat itu ada cowok pribumi anak STM
yang berkulit hitam dan berambut grondrong. Tampangnya sangar dan badannya
tinggi tegap. Ia memandangi cici-ku terus. Matanya memandang lekat-lekat ke
cici-ku, mula-mula ke wajahnya lalu turun ke seluruh tubuhnya sampai ke ujung
kaki. Cara melihatnya sangat kurang ajar seperti bagaikan menelanjanginya.
Terutama selain wajahnya, ia juga menatap lekat-lekat ke arah dadanya. Memang
baju seragam yang dipakai cici-ku waktu itu agak tipis kainnya sehingga bra-nya terlihat dengan jelas. Apalagi
payudaranya cukup menonjol. Ditambah lagi wajahnya yang cakep dan kulitnya yang
putih.Sepertinya cowok itu terangsang habis oleh cici-ku. Sementara itu cici-ku
juga merasa kalau ia dilihatin seperti itu. Sepertinya ia kesal dibegituin.
Sehingga orang itu ditatapnya balik. Dan orang itu malah balas memandanginya
lekat-lekat. Sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka berdua saling bertatapan.
Kini justru aku yang agak takut.
“Kurang ajar bener itu orang. Ngeliatin orang
seenaknya. Kamu labrak dia dong,” perintahnya.
“Sudahlah Ci, biarin aja. Wong
namanya juga orang iseng,” kataku.
“Kamu itu gimana sih. Jadi cowok
bukannya ngebelain kakak. Memang kamu suka ya ngeliat kehormatan cici
dilecehkan seperti itu,” serunya.
“Bukan begitu. Sudahlah namanya
juga orang iseng. Mending kita jalan aja yuk. Nggak usah ditanggepin,” kataku
sambil mengajak dia pergi.
Kebetulan saat itu aku telah
selesai membeli minuman.
“Alaah, bilang aja kamu takut. Dasar
cowok pengecut. Coba, kamu berani nggak berantem sama dia,” ejek cici-ku.
Aku diam saja karena dalam hati
aku mengakui kebenaran kata-katanya itu. Setelah itu aku menoleh ke belakang
melihat orang itu, ternyata dia masih terus memandangi cici-ku. Saat ia
melihatku, ia mengacungkan tinjunya kepadaku. Lalu aku buru-buru menoleh ke
depan kembali.
Di dalam mobil, cici-ku terus
mengata-ngataiku.
“Dasar cowok banci. Penakut.”
“Bukan begitu. Justru aku nggak
mau nanti terjadi apa-apa terhadap cici.”
“Terjadi apa-apa gimana
maksudmu?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Nggak, bu-bukan gitu maksudku.”
“Terjadi apa-apa gimana! Ayo
jawab!!”
“Maksudku, kalo ditanggapi, nanti
malah nekat. Kalo misalnya dia nanti nekat megang-megang cici gimana?”
“Kamu itu gimana sih. Memangnya
cici diam aja kalo mau dipegang-pegang gitu. Trus ada kamu disini, buat apa.
Kamu itu goblok banget sih. Masa nggak berani membela kehormatan cici-mu.”
“Bukan gitu. Ngapain kita cari
gara-gara. Nanti kalo dia mukul gimana?”
“Berarti memang kamu takut khan.
Huh, benar-benar pengecut!”
“Memang cici sendiri nggak takut
berantem sama dia.”
“Goblok! Tolol! Memangnya ngapain
cici mau berantem sama dia.
Kamulah yang harusnya maju
melawan dia. Dasar cowok banci! Penakut!”
Terus terang, memang cici-ku pada
dasarnya nggak suka dengan cowok-cowok semacam itu.
Seharian itu aku masih terus
memikirkan kejadian itu sambil berandai-andai. Seandainya cowok itu nekat
mengajak berkelahi, terus terang memang aku takut menghadapinya. Dan terus
terang, hal lain yang dalam hati kuakui, cici-ku memang orangnya cakep,
body-nya sexy dan sering bikin cowok-cowok suka ngeliatin. Dan kejadian seperti
ini telah sering kali terjadi. Yang aku ingat persis sampai sekarang, ketika
kita pergi berenang, ada cowok pribumi juga yang ngeliatin dia terus. Kali ini
malah lebih parah karena ia bisa melihat lekukan payudara cici-ku yang nampak
bagian atasnya serta pahanya yang putih mulus. Jujur saja, diam-diam kadang aku
pun juga bisa jadi ngaceng sendiri. Meskipun aku tidak pernah punya pikiran
untuk berbuat yang nggak-nggak kepadanya. Seperti saat ini, ketika ia memakai
kaus tank-top ketat warna hijau muda dan celana pendek. Nampak belahan dada bagian
atasnya terutama kalau dia menunduk. Memang kalau di rumah, ia agak berani dan
cuek berpakaian. Karena disini serumah cuman ada aku dan seorang pembantu cewek
yang agak tua. Orangtuaku tinggal di kota lain dan rumah ini disewa buat aku
dan ciciku sekolah di kota ini. Beberapa kali aku pernah melihatnya tidak
memakai bra, terutama kalau malam hari menjelang tidur. Bahkan pernah satu
kali, sewaktu dia kelas 1 SMU, aku melihatnya telanjang bulat! Saat itu ia lupa
mengunci pintu kamarnya sehingga aku masuk begitu saja.
Tiga hari setelah itu (saat malam
Minggu)…
Entah kenapa mendadak malam itu
aku terbangun. Aku tidak ngeliat jam, tapi menurut perasaanku saat itu sekitar
tengah malam. Setelah bangun aku segera keluar dari kamarku. Saat itu ruang
tengah telah gelap gulita. Namun kulihat pintu kamar cici-ku sedikit terbuka
dan lampu didalamnya menyala terang benderang. Karena pengin tahu aku berjalan
mendekatinya. Semakin dekat dari kamarnya, aku mendengar ada suara cowok di
dalam kamarnya! Karena penasaran, aku masuk kekamarnya. Aku ingin berbicara
namun entah kenapa aku jadi seperti tidak bisa berbicara. Dan saat
kulihat…ternyata cici-ku sedang berduaan dengan cowok. Dan cowok itu adalah
cowok pribumi di mal beberapa hari lalu!! Mereka tidak memperhatikanku karena
mereka nampak asyik bermesraan.
Aku jadi bingung, sejak kapan
mereka saling mengenal. Kok bisa-bisanya cici-ku yang biasanya (maaf, bukannya
sara) tidak suka bergaul dengan cowok pribumi kok sekarang malah bermesraan
dengan cowok ini!! Karena bingung dan penasaran, aku bersembunyi di balik lemari
dan dengan leluasa melihat apa yang dilakukan mereka berdua ini.
Saat itu ciciku memakai daster
warna merah coklat yang sangat jarang sekali dipakainya. Mereka berdua duduk
berdempetan di ranjang. Kedua tangan cowok itu memegang-megang tubuh cici-ku
sambil ia menciumi rambut dan leher cici-ku. Cici-ku nampak menonjol dadanya di
balik daster tipis yang dikenakannya. Cowok itu kemudian menyentuh dadanya dan
dengan kedua tangannya diraba-rabainya dan diremas-remas sambil terus menciumi
leher ciciku yang putih serta rambutnya yang hitam kecoklatan.
Sejenak perhatianku terganggu
oleh kantong kresek Hero yang tergeletak di lantai di dekat ranjang. Aku agak
heran kok bisa ada kantong kresek itu padahal kita tidak pernah ke Hero
supermarket.
Mungkin dibawa oleh cowok ini,
pikirku. Namun perhatianku segera beralih kembali ke adegan seru yang ada di
depanku ini.
Cowok itu kini mulai menciumi
bibir cici-ku dan tangannya mulai bergerilya di bagian bawah. Tangannya
dimasukkan di balik daster cici-ku, diraba-rabainya pahanya. Lalu daster itu
dinaikkan ke atas sehingga nampaklah kini paha cici-ku yang putih mulus serta
CD berwarna merah menyala. Sejenak ia memandang warna merah putih yang kontras
dan indah itu. Lalu diraba-rabainya pahanya yang putih mulus. Setelah itu
gantian “bagian merahnya” yang dipegang-pegang dan diraba-rabai. Jarinya
dimainkan dan digesek-gesekkan di daerah sensitif itu. Ia melakukan itu sambil
menciumi cici-ku dan tangan yang satunya meraba-raba payudaranya.
Selama ini kulihat reaksi cici-ku
sama sekali tidak melawan. Bahkan ia menikmati saja diperlakukan seperti itu
oleh cowok itu. Dalam hati aku berpikir, dia suka mengata-ngataiku pengecut
karena aku dianggap tidak berani membela kehormatannya saat dia dilecehkan oleh
cowok pribumi tak dikenal. Namun sekarang apa kenyataannya, malah dia
menyerahkan kehormatan dirinya secara sukarela kepada cowok pribumi yang tak
dikenal dan justru menikmati hal itu! Kalau begini persoalannya, tentu nggak
salah sikapku selama ini. Buat apa dibela kalau yang dibela ternyata memang mau
dengan suka rela. Kalau sekarang misalnya aku tiba-tiba mendatangi mereka dan
menantang cowok itu, jangan-jangan malah cici-ku menyuruh cowok itu untuk menghajarku
supaya aku tidak menghalangi mereka. Sudah malu babak belur pula. Seandainya
pun aku bisa menghajar cowok itu, toh juga tidak ada gunanya. Kalau pada
dasarnya memang mau, cici-ku bisa saja terus berhubungan diam-diam dengan cowok
itu.
Ternyata omongan dan sikapnya
selama ini sungguh berbeda dengan perbuatannya sekarang ini. Jadi ada pepatah
baru,” Mulut mengatakan tidak mau kencing berdiri namun diam-diam melakukan
kencing sambil berlari”. Selama ini ia bersikap tidak suka dan tak mau bergaul dengan
cowok pribumi namun pada saat ini justru ia sedang bermesraan dengan cowok
pribumi. Aku dimaki-maki karena dianggapnya diam saja saat dia diliatin sama
cowok tak dikenal, ternyata justru dia mau digrepe-grepe oleh cowok tak
dikenal, malah menikmati pula. Akhirnya kuputuskan aku akan menyaksikan saja
apa yang akan terjadi seterusnya.
Cowok itu jadi makin berani.
Daster cici-ku yang bagian bawahnya
telah terbuka, kini diloloskannya
dari kepala dan kedua tangan cici-
ku yang dengan sukarela
mengangkat kedua tangannya supaya dasternya
bisa terlepas dari tubuhnya.
Bra-nya juga berwarna sama, merah
menyala yang kontras dengan
tubuhnya yang putih mulus. Dengan penuh
nafsu, cowok itu melepaskan bra
cici-ku yang pengaitnya ada di
depan. Sambil memandangi payudara
cici-ku dari jarak begitu dekat,
ia meloloskan tali bahunya dari
kedua tangannya. Lagi-lagi cici-
ku “bersikap kooperatif”
membiarkan cowok itu membuka bagian
rahasianya.
Cowok itu memandangi payudara
cici-ku sambil tersenyum-senyum.
Memang payudaranya benar-benar
indah dan sungguh mengggoda. Jauh
lebih indah dan padat berisi
dibanding yang kulihat beberapa tahun
lalu. Belahannya begitu sempurna
dan keduanya nampak simetri. Celah
lekukan diantara payudaranya
betul-betul indah. Putingnya berwarna
segar kemerahan. Kedua ujung
putingnya menonjol.
Langsung saja kedua tangan cowok
itu merengkuh masing-masing satu
payudara cici-ku. Diraba-raba dan
diremas-remasnya. Dirasakan
kekenyalannya. Jari jemarinya
meraba-raba dan memilin-milin kedua
putingnya terutama ujungnya yang
nampak sensitif. Terbukti karena
cici-ku dibuat mendesah-desah
perlahan karenanya.
Setelah cukup puas bermain-main
dengan payudara, cowok itu melepas
baju kaus dan celana panjangnya
sendiri, berikut celana dalamnya.
Sehingga kini ia telanjang bulat
dihadapan ciciku. Kulitnya coklat
kehitaman. Badannya tegap serta
dadanya bidang. Cici-ku nampak
jengah karenanya, mungkin
terutama karena batang penisnya yang besar
dan panjang telah ngaceng dengan
kuatnya. Apalagi kepala penisnya
yang disunat jadi makin nampak
besar. Kelihatan pula urat-uratnya
menonjol di tubuh penisnya yang
lebih hitam dibanding kulitnya.
Seluruh paha dan kakinya berbulu
lebat.
Kemudian ia melepaskan CD merah
cici-ku sehingga kini keduanya telah
telanjang bulat. Lagi-lagi ciciku
dengan sukarela membiarkan cowok
itu melucuti pakaian terakhir
yang melekat di tubuhnya. Rambut
kemaluannya nampak cukup lebat.
Cowok itu membuka lebar-lebar paha
cici-ku mungkin supaya ia bisa
melihat dengan jelas vagina dan
klitoris cici-ku. Betul-betul
kurang ajar cowok itu!
Lalu direbahkannya cici-ku dan
kembali ia menciumi leher, rambut,
dan seluruh wajah cici-ku.
Dikulum dan dilumatnya bibir cici-ku
sementara tangannya meraba-raba
tubuh cici-ku terutama payudara dan
paha. Kemudian mulutnya turun ke
bawah, dari leher ke bagian dada.
Dikecupinya kedua payudara
cici-ku dan dikulumnya putingnya
bergantian, lidahnya
bergerak-gerak melingkari putingnya, putingnya
digerak-gerakkannya dengan
lidahnya, dan terakhir putingnya dikenyot-
kenyot. Dan tangannya
digesek-gesekkan di vagina terutama
klitorisnya. Membuat cici-ku
tanpa malu-malu lagi mendesah-desah tak
keruan.
“Oooh, ahhhh, oohhhhh.”
Aku pun jadi terangsang juga
menyaksikan dan mendengar itu. Penisku
telah berdiri tegak dan cairan
pre-cum ku mulai keluar.
Cowok itu kemudian menjilati
vagina cici-ku. Wah, gila! Seperti AV
Jepang saja. Tak jelas apa yang
dilakukannya namun cici-ku jadi
makin mendesah-desah dan
mengerang-ngerang dibuatnya.
Lalu ia menindih tubuh cici-ku,
pahanya yang hitam berbulu menempel
di paha cici-ku yang putih mulus
sementara dadanya yang bidang
menempel ke payudara cici-ku.
Kembali dengan penuh nafsu ia menciumi
bibir cici-ku kemudian ke
lehernya.
Tak lama kemudian, ia membuka
lebar-lebar kedua paha ciciku. Diatur
posisi penisnya di depan vagina
cici-ku. Lalu dengan gerakan
mendorong ke depan, dimasukkan
kepala penisnya ke dalam liang vagina
cici-ku.
“Oooohhhh.”
Lalu gerakan mendorong sekali
lagi, mungkin untuk memasukkan seluruh
penisnya ke dalam.
“aaahhhhhhhh.”
Setelah itu terjadilah gerakan
berirama ketika ia memainkan penisnya
di dalam vagina cici-ku. Tentu
pada saat itu cowok itu – yang bahkan
namanya pun aku tak tahu- telah
berhasil merenggut kehormatan cici-
ku secara telak. Bahkan bukan
tidak mungkin pula kalau ia adalah
cowok pertama yang menikmati
keperawanan cici-ku. Sebelumnya aku
tidak pernah menyangka kalau
cici-ku bisa berkelakuan seperti saat
ini. Aku tak bisa melihat dengan
jelas apa yang dilakukannya karena
cowok itu dalam posisi
memunggungiku saat ia mem-”banging” cici-ku.
Hanya bisa kulihat tubuhnya
bergerak maju mundur. Aku tak bisa
melihat cici-ku karena tertutup
oleh punggungnya. Namun gerakan-
gerakan itu membuat
desahan-desahan cici-ku jadi makin liar dan
makin cepat iramanya.
“Ooooh…Aaahhh….Ooohhhhh….Ahhhhhh…..Ooohhhhhh.”
Namun hal itu tak berlangsung
lama. Karena tak lama kemudian mereka
berubah posisi menghadap ke
samping sehingga kini aku bisa melihat
dengan jelas. Cowok itu menyuruh
cici-ku menungging di depannya yang
dengan patuh diikutinya. Nampak
punggungnya yang putih mulus dan
payudaranya bergerak-gerak
menggantung dengan bebasnya. Kayaknya
cowok itu ingin menikmati cici-ku
dalam posisi doggy style. Namun
sebelum itu, ia memegang dan
menyangga payudara cici-ku. Kedua
payudara yang indah itu kini
berada dalam genggamannya, ditepuk-
tepuknya dan diremas-remasnya.
Setelah puas memainkan
payudaranya, kini dimasukkannya penisnya yang
besar ke dalam lubang vagina
cici-ku lalu dikocoknya di dalamnya.
Saking nafsunya sampai-sampai
seluruh tubuh cici-ku jadi ikut
terdorong maju mundur mengikuti
gerakan “kocokan” cowok itu. Cici-ku
jadi makin mendesah-desah tak
karuan dibuatnya. Seluruh tubuhnya
bergoyang-goyang termasuk
payudaranya juga bergoyang-goyang tak
karuan. Bahkan ranjang pun jadi
ikut tergoyang-goyang. Dengan posisi
sekarang, kini aku bisa melihat
langsung maupun dari refleksi kaca
besar di meja rias di samping
ranjang. Cowok itu nampak sangat puas
menikmati “menggedor-gedor”
seluruh tubuh cici-ku itu. Kini
pandangannya mengarah ke kaca
besar meja rias itu, tertuju ke tubuh
cici-ku yang bergoyang-goyang
karena kocokan penisnya itu. Memang
betul-betul dahsyat pemandangan
itu!
Setelah puas menggedor dalam
posisi doggy style, kini cowok itu
merebahkan dirinya telentang di
ranjang. Nampak penisnya yang besar
berdiri dengan tegaknya. Kepala
penisnya mengkilap basah mungkin
karena cairan pre-cum bercampur
dengan cairan vagina cici-ku.
Lalu ia “membimbing” ciciku
supaya “duduk dengan manis” diatas tubuh
cowok itu dengan posisi yang
tentunya diatur supaya penisnya berada
di dalam vagina cici-ku. Setelah
masuk ke dalam, dengan tangannya ia
menggerakkan tubuh cici-ku naik
turun. Mula-mula cici-ku agak
canggung. Namun lama kelamaan ia
jadi keenakan naik turun menunggang
penis cowok itu. Payudaranya
bergerak-gerak dan berputar-putar naik
turun mengikuti gerakan tubuhnya.
Namun aku tak lama bisa menikmati
payudaranya karena kedua tangan
cowok itu segera merengkuh payudara
cici-ku dan kembali, untuk
kesekian kalinya hari itu, meremas-
remasnya. Nampak kontras
perbedaan tubuh mereka. Cici-ku yang putih
bergoyang-goyang di atas tubuh
cowok itu yang hitam. Namun rupanya
cici-ku sudah tidak mempedulikan
segalanya. Karena ia terus-terusan
menggerakkan tubuhnya naik turun
sambil terus mendesah-desah dan
berteriak-teriak. Diantara suara
desahannya itu, aku juga bisa
mendengar suara beradunya penis
cowok itu dengan vagina cici-ku.
“Ahhhhh, ahhhhhh, ahhhhhh,
ahhhhhhh….”
“Shleeb, shleeb, shleeb…”
Saat itu aku pun juga merasa
ikutan “naik”. Tanpa sadar kukocok
penisku menikmati pemandangan
itu.
Sementara cici-ku makin lama
mendesah-desah makin cepat dan makin
tinggi suaranya. Sampai akhirnya
ia mendapatkan orgasme.
Setelah itu mereka berganti
posisi. Tubuh cici-ku yang lebih kecil
ditindihnya. Pahanya yang hitam
berbulu kembali menempel di paha
cici-ku yang putih mulus. Cici-ku
sepertinya kegelian karena bulu-
bulu di paha cowok itu
menggelitik pahanya dan vaginanya. Kini
giliran cowok itu yang diatas
untuk menyetubuhinya dengan gaya
missionaris. Kembali penisnya
dimasukkan ke dalam vagina cici-ku.
Kemudian benar-benar
habis-habisan ia mengocoknya. Sampai-sampai
seluruh ranjang kembali
bergoyang-goyang.
Setelah itu ia mengubah sedikit
posisinya. Ia menyetubuhi cici-ku
dengan mengangkat kedua paha
cici-ku dan menaruh diatas bahunya.
Lalu kembali disodoknya cici-ku
yang putih mulus itu dengan penisnya
yang hitam besar. Tentu
sodokannya itu membuat kembali
terjadi “gempa setempat”. Seluruh
tubuh cici-ku bergoyang-goyang.
Kedua payudara cici-ku
bergerak-gerak dan berputar-putar mengikuti
irama gerakan sodokan cowok itu.
Cukup lama ia menggenjot cici-ku
seperti itu. Setelah puas meng-
“over-power” cici-ku seperti itu,
akhirnya ia mengalami ejakulasi
dan memuntahkan seluruh spermanya
di dalam tubuh cici-ku.
Saat itu aku pun akhirnya juga
mengalami ejakulasi yang terhebat
yang pernah kualami. Kurasakan
sperma yang tumpah di celanaku amat
sangat banyak. Aku merasa sangat
puas sekali. Setelah itu aku merasa
ngantuk sekali dan tertidur.
…….
…….
Entah berapa lama kemudian, aku
setengah sadar terbaring di
ranjangku, dalam kondisi setengah
sadar dan setengah bermimpi. Ooh,
ternyata barusan aku cuma
bermimpi, pikirku. Namun kurasakan
celanaku basah kuyup dan bau
sperma. Hmm, ternyata barusan aku mimpi
basah mengenai cici-ku dan cowok
tak dikenal. Dalam hati aku
bersyukur bahwa semuanya ini
hanyalah mimpi. Sungguh aku tidak
mengharapkan kalau cici-ku
dibegituin betulan sama cowok itu. Meski
harus kuakui dengan jujur, bahwa
itu adalah mimpi yang indah.
Mimpi yang sangat indah.
Dan juga sangat riil.
Sampai-sampai sulit dibedakan
antara mimpi dan kenyataan.
Pagi harinya…
Aku bangun agak terlambat. Begitu
bangun aku langsung teringat akan
mimpi indah kemarin malam. Saat
itu aku sudah betul-betul bangun dan
sadar kalau saat ini bukan mimpi.
Seketika kupegang celanaku,
ternyata memang malam itu aku
mimpi basah dengan hebat dan
mengeluarkan sperma banyak
sekali. Bahkan saking banyaknya, ada sisa
sperma yang mengering di pahaku
dan membekas sampai ke seprei-ku.
Badanku terasa lemas gara-gara
keluar sperma yang sangat banyak
malam tadi. Setelah cuci muka,
aku keluar kamar. Tak lama kemudian
keluarlah ciciku dari kamarnya.
Tampangnya kusut dan rambutnya awut-
awutan. Tampangnya seperti orang
yang baru bangun. Tidak biasanya
jam segini ia baru bangun.
Biasanya ia selalu bangun lebih pagi
dariku.
Namun yang mengherankanku adalah,
ia memakai daster merah coklat
yang sama persis dengan mimpiku
semalam. Padahal daster itu biasanya
jarang dipakainya. Dan bra yang
dipakainya pun warnanya merah
menyala. Hal ini terlihat dari
talinya yang kelihatan di bahunya.
Belakangan setelah ia selesai
mandi, kulihat diantara tumpukan baju
kotor, bra dan CD warna merah
menyala yang modelnya sama persis
dengan mimpiku kemarin!
Dan yang paling membuatku
terkejut adalah, sewaktu pintu kamarnya
terbuka agak lebar, kulihat ada
kantong kresek Hero di tempat yang
sama dengan yang kulihat
kemarin!!
Kini aku jadi penasaran, apakah
kemarin malam cici-ku betul-betul
telah disetubuhi dan bercinta
dengan cowok itu ataukah memang cuma
mimpi? Untuk membuktikannya, aku
mempunyai ide bagus, yaitu dengan
mencek seprei di ranjangnya yang
bisa jadi ada bukti bekas-
bekas “pertempuran” malam itu
kalau memang itu benar-benar terjadi.
Namun sayangnya aku tidak
mendapat kesempatan itu. Karena disaat aku
sedang mandi, seprei berikut
sarung bantal dan guling serta
comforter yang ada di bawah
seprei telah diganti dengan yang baru.
Sementara yang lama telah dicuci
di dalam mesin cuci dan comforter-
nya telah dikirim ke laundry.
Kebetulankah?
Atau untuk menghilangkan bukti?
Kini aku benar-benar tidak tahu,
apakah kejadian malam itu hanya
mimpi?
Ataukah mimpi yang terjadi
bersamaan dengan kenyataan?
Atau memang kenyataan?
Oleh karena sejak saat itu aku
tidak pernah bertemu lagi dengan
cowok STM itu.
Jadi di dunia ini, hanya cici-ku
seoranglah yang tahu akan kejadian
sesungguhnya.
Ataukah ada diantara pembaca yang
tahu kejadian sesungguhnya?
Entahlah.